BALI ZIEKTE

BALI ZIEKTE

BALI ZIEKTE

BALI ZIEKTE
BALI ZIEKTE

Etiologi

Penyakit Baliziekte pertama kali ditemukan pada tahun 1925 Subberink dan Le Cultre di beberapa tempat di Bali, yang kemudian juga ditemukan di sulawesi, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Penyakit Baliziekte biasa ditemukan pada musim kemarau pada sapi Bali, penyebab penyakit ini adalah suatu reaksi hipersensitivitas fotosensitisasi yang disebabkan oleh tanaman –tanaman : Lantana camara dan Medicago sp. Tanaman-tanaman ini sangat mudah tumbuh dan mampu bertahan dalam situasi kering sehingga terkadang menjadi pilihan makanan oleh ternak sapi yang dipelihara dengan pola penggembalaan.

 

Lantana camara mengandung Lantadene-A

yang bersifat meracuni hati (hepatotoksik), sehingga hati akan melepaskan beberapa zat yang akan menimbulkan reaksi peningkatan kepekaan kulit terhadap sinar matahari (fotosensitisasi).

 

Gejala Klinis

Pada awalnya, sapi yang mengalami penyakit bali ziekte mengalami demam, pucat (anemik), mata berlendir, dan hidung mengalami peradangan. Peradangan pada selaput lendir akan berlanjut menjadi luka – luka dangkal yang tertutup oleh keropeng. Kerusakan kulit berupa eksim akan mengering, kemudian mengelupas menyerupai kerupuk dan akhirnya terlepas meninggalkan luka.

 

Kerusakan pada kulit akibat serangan penyakit bali ziekte terutama

terjadi dibagian tubuh sapi yang tidak ditumbuhi bulu atau yang bulunya jarang. Kulit sapi yang sedikit atau tidak berpigmen dan yang terus menerus terkena sinar matahari, seperti bagian telinga, muka, punggung,perut, paha bagian dalam, scrotum, dan cermin pantat juga sering mengalami luka – luka. Pada awalnya, luka – luka tersebut timbul secara simetris, yaitu terjadi pada tubuh bagian kanan dan kiri pada organ yang sama. Luka yang timbul menyebabkan rasa gatal, sehingga sapi akan menjilat – jilat bagian yang luka tersebut sehingga semakin melebar. Belatung (larva lalat) dan kuman sering menyebabkan infeksi sekunder dan membuat luka semakin parah dan bernanah.

Umumnya tingkat mortalitas penyakit ini rendah, kerugian timbul karena laju pertambahan bobot badan yang sangat rendah, kematian akan timbul bila terjadi infeksi general (sepsis) akibat adanya infeksi sekunder pada luka-luka terbuka. Perkembangan luka radang biasanya akan diikuti oleh timbulnya larva lalat yang bertelur pada luka (myasis), keadaan ini akan semakin memperparah kondisi sapi yang sakit.

 

Medikasi etno-veteriner untuk baliziekte

Dasar pengobatan etno-veteriner untuk penyakit ini adalah mengeliminasi racun yang ada dalam sirkulasi darah dengan beberapa tahapan sebagai berikut :

  1. Sapi ditempatkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung
  2. Berikan air minum dalam jumlah yang banyak
  3. Luka ditutup dengan campuran Kapur + Biji Pinang(Areca catechu) + Kunyit (Curcuma domesticate rhizoma) (2 : 1 : 2 dalam berat) selama 3 hari berturut-turut. Semua bahan dihaluskan dan dicampur menjadi satu, kemudian ditambah dengan sedikit air, hingga berbentuk krim atau lotion.
  4. Sementara sapi diberikan makanan yang bersifat detoksikatif seperti : Rambutan + garam atau Mentimun + garam. (3 kg + 3 sendok makan garam) per hari untuk sapi dewasa (125 – 200 kgm. Bobot Badan) selama 3 hari berturut-turut, atau diberikan air kelapa sebanyak 5 butir kelapa per hari selama 3 hari berturut-turut.
  5. Pencegahan infeksi sekunder dilakukan dengan pemberian bawang putih (50 gram-100 gram untuk sapi dewasa) yang dihancurkan dan dicampurkan dengan konsentrat, kemudian dibentuk seperti bola-bola kecil dan diberikan per hari selama 5 hari berturut-turut, ramuan ini lebih baik lagi bila ditambah dengan temulawak (Curcuma xanthorrica)(50 gram untuk sapi dewasa) untuk mempercepat regenerasi sel-sel hati. Dosis untuk sapi muda lebih kurang ¼ – ½ dosis sapi dewasa
  6. Eliminasi semua tanaman yang bersifat hepatotoksik di sekitar area pemeliharaan.
  7. Sapi akan segera menunjukkan reaksi kesembuhan dalam waktu 7 hari.

Sumber : https://nashatakram.net/jenis-kata/