Pendidikan

Dinasti Buwaihi

Dinasti Buwaihi

Dikatakan bahwa fase yang bahkan lebih gelap dalam sejarah kekhalifahan dimulai pada Desember 945, ketika Khalifah al-Mustakfi 944-946 (khalifah dari dinasti Abbasiyah) di Baghdad menerima Ahmad ibn Buwaih yang  termasyhur dan mengangkatnya sebagai amir al-umara’ dengan gelar kehormatan Mu’iz al-Dawlah (orang yang memberi kemuliaan pada  Negara).

Ayahnya adalah seorang yang suka berperang bernama Abu Syuja’. Ia merupakan pimpinan dari gerombolan yang suka berperang. Iya mempunyai tiga putra termasuk Ahmad, perlahan-lahan mereka menguasai jalan menuju selatan, Isfahan, Syiraz dengan provinsinya pada tahun 934 dua tahun kemudia menguasai provinsi-provinsi di Ahwaz (sekarang Kuzistan) dan Karman. Ahmad  meminta namanya disebut dalam hutbah jum’at dengan nama sang khalifah walaupun jabatannya hanya amir al-umara .

Pada bulan Januari 946, al-Mustakfi digulingkan oleh Mu’izz al-Dawlah yang kemudian memilih al-Mutsi (946-974) sebagai Khalifah baru. Maka festival-festival Syiah mulai diselenggarakan, terutama perayaan berkabung peringatan hari kematian al-Husain 10 Muharam, dan perayaan bergembira memperingati pengangkatan ‘Ali sebagai penerus Rasulullah di Ghadir al-Khumm. Pada periode ini bisa dikatakan sebagai periode paling buruk dan menyedihkan dalam kekhalifahan karena khalifah hanya sekedar formalitas belaka atau boneka di tangan amir al-umara yang suka memecah belah kaum muslim.

Ada yang mengatakan bahwa Buwaihi bukanlah yang pertama memangku gelar sultan sebagaimana banyak klaim dari sejarawan. Bahwa orang-orang buwaihi ini merasa cukup puas dengan gelar amir atau malik yang dibubuhkan pada julukan kehormatan seperti Mu’izz al-Dawlah, ‘Imad al-Dawlah (tiang Negara), dan Rukn al-Dawlah (pilar Negara). Semua gelar itu adalah gelar-gelar yang diberikan serantak kepada putra Buwaih oleh khalifah. Yang kemudian setelah mereka sebutan-sebutan angkuh itu menjadi kebiasaan.

sumber :

https://thesrirachacookbook.com/seva-mobil-bekas/