Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terbentuknya Masyarakat Multikultural

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terbentuknya Masyarakat Multikultural

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terbentuknya Masyarakat Multikultural

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terbentuknya Masyarakat Multikultural
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terbentuknya Masyarakat Multikultural
  1. Topografi & Pluralitas Regional

Iklim, struktur, curah hujan, & kesuburan tanah yang berbeda-beda di wilayah Indonesia merupakan faktor yang menciptakan pluralitas regional / kemajemukan daerah. Pluralitas regional dalam masyarakat Indonesia terwujud dalam 2 macam lingkungan ekologis yang berbeda, yaitu:

1) Daerah pertanian ladang,  banyak terdapat di luar Pulau Jawa.

2) Daerah pertanian sawah,  banyak terdapat di Pulau Jawa dan Bali;

Integrasi suku bangsa dalam kesatuan nasional menjadi bangsa Indonesia dalam kesatuan wilayah negara Indonesia paling tidak dipicu oleh empat peristiwa penting berikut ini:

1) Selama periode pergerakan nasional, para pemuda Indonesia telah menolak menonjolkan isu kesukubangsaan dan melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928. Bahkan, bahasa milik suku minoritas Melayu Riau telah ditetapkan sebagai bahasa nasional (bukan bahasa mayoritas Jawa).

2) Kekuasaan kolonial Belanda selama hampir tiga setengah abad telah menyatukan suku-suku bangsa di Indonesia dalam satu kesatuan nasib dan cita-cita.

3) Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 yang mendapat dukungan dari semua suku bangsa di Indonesia yang mengalami nasib yang sama di bawah penjajahan Belanda.

4) Kerajaan sriwijaya (abad VII) dan Majapahit (abad XIII) telah mempersatukan suku-suku bangsa Indonesia dalam kesatuan politis ekonomi dan sosial. (http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-laporan-hasil-observasi/)

  1. Keadaan geografis dan pluralitas kesukuan

Indonesia terdiri atas kurang lebih 17.000 pulau yang tersebar di suatu daerah sepanjang kurang lebih 3.000 mil melintang dari barat ke timur & sepanjang kurang lebih 1.000 mil melintang dari utara ke selatan. Wilayah ini sangat luas. Apalagi penduduk Indonesia tersebar hampir di seluruh pulau itu. Keadaan sarana & prasarana transportasi darat, laut, menyebabkan sebagian penduduk yang menghuni pulau-pulau itu tumbuh menjadi kesatuan sosial yang sedikit banyak terisolasi dari kesatuan sosial yang lain. Dengan demikian, tumbuhlah kesatuan-kesatuan suku bangsa yang memiliki bahasa & mewarisi adat kebudayaan yang berbeda-beda. Setiap kesatuan suku bangsa terdiri dari sejumlah warga yang dipersatukan oleh ikatan yang lebih bersifat emosional, & memandang diri mereka masing-masing sebagai satu kesatuan. Tentang berapa jumlah suku bangsa yang sebenarnya ada di Indonesia, ternyata terdapat berbagai pendapat yang tidak sama di antara para ahli ilmu kemasyarakatan.

Menurut Clifford Geertz, terdapat lebih dari 300 suku bangsa di Indonesia, setiap suku memiliki bahasa dan identitas kultural yang berbeda-beda.

Menurut Skinner, ada lebih dari 35 suku bangsa di Indonesia dengan bahasa dan adat yang tidak sama.

  1. Letak dalam Hubungan Dengan Jalur Lalu Lintas Perdagangan dan Pluralitas Agama

Indonesia terletak di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan. Melalui para pedagang asing yang pemah singgah & melakukan transaksi dagang dengan masyarakat Indonesia , masyarakat Indonesia bersentuhan dengan penparuh kebudayaan asing, khususnya agama dari bangsa lain. Pluralitas agama berkembang dari kontak perdagangan melalui jalur lalu lintas samudra. Pengaruh yang pertama kali menyentuh masyarakat Indonesia berupa pergaruh kebudayaan Hindu dan Buddha dari India sejak 400 tahun sesudah Masehi. Hinduisme & Buddhisme pada waktu itu menyebar meliputi daerah yang cukup luas di Indonesia dan melebur dengan kebudayaan asli yang telah hidup lebih dahulu. Di Pulau Bali & Pulau Jawa, pengaruh Buddha dan Hindu tertanam kuat sampai sekarang.

Pengaruh berbagai kebudayaan yang datang membonceng perdagangan ini, akhirnya terwujud dalam bentuk pluralitas / kemajemukan agama dalam masyarakat Indonesia, yaitu sebagai berikut :

1) Hindu Dharma, terutama di Pulau Bali

2) Golongan Islam konservatif-tradisional, di pedalaman Jawa timur, Jawa Tengah, dan di luar Jawa.

) Golongan Islam Modernis, terutama di daerah-daerah strategis perdagangan internasional pada saat masuknya reformasi Islam, daerah pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah serta sebagian besar daerah Jawa barat.

4) Golongan Islam terutama abangan, yaitu yang sering dijuluki golongan Islam nominal, terutama di daerah pedalaman Jawa tengah dan Jawa Timur.

5) Golongan Kristen, yaitu Katolik dan Protestan yang juga merupakan golongan agama minoritas, terutama di daerah Maluku, NTTT, Sulawesi Utara, Tapanuli, Kalimantan Tengah, dan di Jawa tersebar hampir di setiap daerah perkotaan.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas Pierre. L. Van denberg mengemukakakan bahwa masyarakat majemuk Indonesia memiliki beberapa karakteristik sebagi berikut :

Walaupun integrasi secara nasional secara politis telah terbentuk, tetapi dalam kenyataan di sepanjangnya bangsa Indonesia selalu mengalami konflik-konflik secara internal. Hal ini menurut Pierre L. Van den berg karena adanaya kenyataan bahwa masyarakat majemuk Indonesia memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :

1) Terjadinya segmentasi kedalam bentuk kelompok-kelompk yang seringkali memiliki sub-kebudayaan yang berbeda satu sama lain.

2) Memiliki struktur sosial yang terbaig-bagi kedalam lembaga-lembaga yang bersifat non – komplementer.

3) Kurang mengembangkan consensus di antara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar.

4) Secara relatif sering mengalami konflik-konflik di anatara kelompok yang satu dan kelompok yang lain.

5) Secara relatif integgrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan didalam bidang ekonomi.

6) Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok lainnya.

  1. Keanekaragaman Suku Bangsa Di Indonesia Bagian Barat, Tengah dan Timur.

Kepulauan Indonesia didiami oleh bermacam-macam suku bangsa yang telah lebur menjadi sau bangsa, yaitu bangsa Indonesia, persamaan nasib, kepentingan, penderitaan dan kesadaran berbangsa telah mempercepat penggantiannya.

Disamping kemajemukan suku bangsa, terdapat pula kemajemukan ras, agama, kebudayaan, adat istiadat, tradisi– tradisi dan bahasa. Karena kemajemukan atau beranekaragamam itulah bangsa kita menganut system sosial budaya yang berdasarkan Bhineka Tunggal Ika artinya berbeda-beda tetapi satu jua atau kesatuan dalam kemajemukan atau kemajemukan dalam kesatuan. Unsur warna daerah merupakan hal yang wajar & justru memperkaya warna kehidupan, bahkan menjadi sumber kelahiran warna baru yang lebih baik lagi. Yang penting warna diusahakan adalah bagaimana perbedaan itu dapat tetap mempersatukan bangsa kita dalam persatuan yang indah.

  1. Kemajemukan Masyarakat Indonesia Berdasarkan Suku Bangsa

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, yang terdiri dari banyak suku bangsa dengan aneka ragam kebudayaannya. Bahkan, kebudayaan – kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah itu diakui keberadaannya & otonominya oleh UUD 1945 sebagai landasan pengembangan kebudayaan nasional. Namun, tidak banyak orang yang mampu menyatakan dengan tepat berapa banyak suku bangsa & kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Masyarakat bangsa Indonesia yang terdiri dari banyak suku bangsa yang besar maupun yang kecil itu masing-masing mengembangkan kebudayaannya sebagai perwujudan tanggapan mereka terhadap tantangan yang harus mereka hadapi sesuai dengan lingkungan hidup masing-masing. Sesuai dengan kenyataan lingkungan alam & letak geografisnya, penduduk Indonesia hidup dalam kesatuan-kesatuan yang terbatas besarannya & tersebar di kepulauan Nusantara. Mereka mengembangkan pola-pola adaptasi setempat & hanya sebagian dari kesatuan-kesatuan sosial itu berinteraksi secara intensif dengan sesamanya atau masyarakat dari luar kepulauan. Pada akhirnya, mereka mampu berkembang sebagai masyarakat majemuk dengan aneka ragam kebudayaan di kepulauan Nusantara. Kebudayaan-kebudayaan yang dikembangkan dijadikan pedoman hidup & juga berfungsi sebagai ciri pengenal yang dapat membedakan mereka dari kelompok suku bangsa yang lain.

Jumlah suku bangsa di Indonesia tidak pernah diketahui dengan pasti, karena setiap kali sensus penduduk tidak disertakan komponen suku bangsa, sedangkan kehidupan masyarakat Indonesia nyata-nyata

Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultuiral selain berada dalam wilayah administratif negara, juga berada dalam wilayah budaya suatu suku-bangsa. Kehidupan masyarakat suku bangsa di Indonesia memperlihatkan banyak kesamaan di samping perbedaannya. Menurut kesatuan genealogis, suku bangsa adalah kekerabatan yang sudah meluas sehingga pertalian darahnya tidak dapat lagi ditunjukkan, namun para anggotanya berkeyakinan bahwa mereka berasal dari nenek moyang yang sama:

Berdasarkan Peta Suku bangsa yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, di Indonesia kurang lebih terdapat 250 bahasa daerah yang berkembang, di samping 440 bahasa yang berkembang di Irian Jaya (Papua). Meskipun bahasa bukan satu-satunya kriteria pembeda suku bangsa, namun dapat digambarkan betapa banyaknya suku bangsa di Indonesia. Jika kita lihat peta suku bangsa di Indonesia, akan terlihat jelas pengelompokan sebagai berikut.

  1. Wilayah Sumatera dan sekitarnya, terdapat suku bangsa antara lain, Aceh, Simeulue, Gayo, Alas, Tamiang, Singkil, Melayu, Batak (dengan sub-sub suku bangsanya: Karo, Simalungun, Toba, Pakpak, Angkola dan Mandailing), Nias, Minangkabau, Sakai, Palembang, Musi, Ogan, Komering, Pasemah, Orang Laut, Kubu, Kerinci, Re-jang, Serawai, Lampung, dan sebagainya.
  2. Wilayah Kalimantan dan sekitarnya, terdapat suku bangsa Pasir, Dayak dan berbagai macam sub-suku bangsanya, Kutai, Tagel, Benawas, Banjar, & sebagainya.
  3. Wilayah Sulawesi dan sekitarnya, terdapat suku bangsa Minahasa, Mongondow, Sangir, Gorontalo, Kaidipang, Talaud, Bantik, Bang-gai, Salua, Balantak, Pamona, Mori, Bungku, Kaili, Toli-toli, Buol, Wokatobi, Walio, Buton, Muna, Tolaki, Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, dan sebagainya.
  4. Wilayah Jawa dan Madura, terdapat suku bangsa Jawa, Sunda, Madura, Banten, Baduy, dan beberapa sub-suku bangsa Jawa & Sunda lainnya.
  5. Wilayah Nusa Tenggara terdapat suku bangsa Bali, Sasak, Samawa, Mata, Dompu, Mbojo, Tarlawi, Kore, Helong, Dawan, Sawu, Rote, Tetun, Alor, Lamaholot, Larantuka, Lio, Sikka, Ende, Bajawa, Riung, Nagekeo, Manggarai, dan sebagainya.

f.Wilayah Maluku terdapat suku bangsa Kisar, Tepa, Tanimbar, Kei, Aru, Morotai, Loda, Tidore, Togutil, Makian, Bacan, Gane, Galela, Patani, Maba, Guli, Ambon, Saparua, Nusalaut, Rana, Kayeli, dan sebagainya.

  1. Wilayah Irian Jaya (Papua Barat), terdapat ratusan suku bangsa yaitu, Waigeo, Batanta, Salawati, Misol, Yapen, Waroppen, Ka-pauku, Numfor, Biak, Mimika, Moni, Sentani, Dani, Marindanim, Asmat, Midika, dan sebagainya.

Dalam interaksi antarsuku bangsa di Indonesia, terutama sejak berdirinya negara Republik Indonesia, terdapat gejala pembauran & penggunaan kebudayaan nasional.

  1. Konsekuensi Perubahan Sosial, Ekonomi, Politik, Budaya terhadap perkembangan kelompok sosial.

Perubahan sosial merupakan gejala umum yang terjadi pada setiap masyarakat. Perubahan sosial terjadi sepanjang masa, tidak ada masyarakat di dunia ini yang tidak mengalami perubahan. Perubahan sosial selalu terjadi di setiap masyarakat. Perubahan terjadi sesuai hakikat dan sifat dasar manusia itu sendiri. Manusia selalu berubah dan mengingikan perubahan dalam hidupnya. Manusia merupakan makhluk yang selalu berubah, aktif, kreatif, inovatif, agresif, selalu berkembang dan responsive terhadap perubahan yang terjadi di sekitar atau lingkungan sosial mereka. Didalam masayarakat, niali-nilai sosial tertentu yang lama & sudah tidak memenuhi tuntutan yang lama dan sudah tidak memenuhi tuntutan zaman akan hilang dijauhi dengan nilai-nilai baru. Kemudian nilai-nilai baru itu diperbaharui lagi & diganti dengan nalai-nilai yang lebih baru. Nilai tradisional diganti dengan niali modern, nilai modern diganti & diperbaharui dengan yang lebih baru lagi yaitu nilai post modern atau pasca modern.