Gerakan Nasionalisme di Asia

Gerakan Nasionalisme di Asia

Gerakan Nasionalisme di Asia

Gerakan Nasionalisme di Asia
Gerakan Nasionalisme di Asia

bahkan hingga masing-masing tokoh mampu mendirikan sebuah negara merdeka.

Bangkitnya nasionalisme di seluruh Asia bisa dilihat sebagai sebuah gerakan massa yang sezaman. Para cendekiawan dan kelompok terpelajar di antara bangsa-bangsa di Asia memiliki kesamaan pandangan di dalam menghadapi kolonialisme Barat. Kita bisa memahami bagaimana Mohammad Hatta telah sejak tahun 1927 mengenal Jawaharlal Nehru justru saat dilaksanakan kongres antipenindasan di Brussels. Apabila dirunut kelahiran nasionalisme Indonesia pun tidak terlepas dari faktor-faktor yang datang dari luar, antara lain kemenangan Jepang atas Rusia dalam perang tahun 1905, Gerakan Turki Merdeka, Revolusi Cina, gerakan nasional di Filipina dan India. Berkaitan dengan kemenangan Jepang atas Rusia, untuk pertama kalinya dalam sejarah, bangsa kulit berwarna di Asia bisa mengalahkan bangsa kulit putih. Inilah yang mampu mengangkat harkat dan rasa percaya diri bangsa-bangsa Asia di dalam menghadapi kolonialisme. Sejak itulah, muncul gerakan-gerakan nasionalisme di berbagai bangsa seperti Congres Party (India), Kuomintang (Cina), Sarekat Islam (Indonesia), dan lain-lain.

  1. Gerakan Nasionalisme Cina

Lahirnya nasionalisme Cina disebabkan beberapa faktor, antara lain kekecewaan rakyat terhadap penguasa Manchu, kekalahan dalam Perang Candu tahun 1842, dan keinginan untuk membentuk negara sendiri. Kaisar Manchu dinilai bukan keturunan bangsa Cina dan lemah saat menghadapi penjajahan bangsa Eropa, AS, dan Jepang. Akhirnya revolusi pun pecah. Kaisar Manchu digulingkan oleh rakyatnya sendiri tahun 1911 dan Cina menjadi republik. Jalannya pemerintahan republik tidak stabil karena sering terjadi intrik dan pertikaian, hingga saat tampil tokoh nasionalis terkemuka Dr. Sun Yat Sen.

Dr. Sun Yat Sen mencita-citakan Cina baru yang didasarkan San Min Chu I (Tiga Sendi Kedaulatan Rakyat) yaitu nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme. Ia berhasil memimpin revolusi nasional yang meletus di Wuchang tanggal 11 Oktober 1911. Pada tahap awal, gerakan ini berpusat di Cina Selatan, karena Cina Utara masih dikuasai oleh Dinasti Manchu di bawah Kaisar Pu Yi dan para  Warlord (panglima perang). Meskipun berhasil memimpin revolusi nasional tetapi Dr. Sun Yat Sen tidak mau menjadi presiden dan menunjuk Jenderal Yuan Shih Kai (salah satu Warlord yang berpengaruh) untuk menjabat presiden tahun 1911–1916. Ia sendiri mengundurkan diri ke Kanton dan mendirikan Kuo Min Tang (Partai Nasionalis). Dr. Sun Yat Sen menjadi presiden Cina setelah berhasil memadamkan pemberontakan tahun 1916–1922. Pada tahun 1924, Sun Yat Sen meninggal dan digantikan oleh Chiang Kai Shek.

  1. Gerakan Nasionalisme India

Pada tahap awal, pergerakan nasionalisme India bersifat gerakan sosial dan pendidikan dan baru berubah menjadi gerakan politik setelah berdiri Indian National Congress (Partai Kongres). Anggota partai ini terdiri atas golongan intelektual Hindu dan muslim serta merupakan gerakan kebangsaan rakyat India.

Sebagai seorang pemimpin, Gandhi sangat disegani oleh penjajah dan dihormati oleh rakyatnya. Ada beragam bentuk gerakan nasionalisme yang diperjuangkan oleh Mahatma Gandhi untuk memperjuangkan kemerdekaan India.

Berikut ini gerakan Nasionalisme India;

1.Ahimsa Gerakan antikekerasan yang melarang pembunuhan.

2.Satyagraha Gerakan untuk tidak bekerja sama dengan kaum penjajah (Inggris).

3.Hartal Pemogokan yaitu perlawanan melalui gerakan tidak berbuat apa-apa, meskipun mereka datang ke tempat kerja.

4.Swadesi Gerakan untuk mempergunakan produksi sendiri, tidak meng-gantungkan kepada produk bangsa lain.

  1. Gerakan Nasionalisme Turki

Gerakan nasionalisme Turki mulai bangkit setelah muncul upaya modernisasi. Modernisasi dimaksudkan untuk membangun kembali Turki setelah kekuasaannya dipersempit oleh penjajah Barat. Semasa pemerintahan Sultan Muhammad II, Kerajaan Turki Usmani menjadi kerajaan dunia (abad XV–XIX). Selanjutnya, Turki mendapat sebutan The Sick Man karena kehilangan banyak wilayah dan pengaruh. Modernisasi Turki dipelopori oleh Rasjid Pasha, Fuad, Namik Kemal, Ali Pasha, Midhat Pasha, dan Kemal Pasha.

Para tokoh pergerakan Turki kemudian membentuk Gerakan Turki Muda. Tujuannya adalah menyelamatkan Turki dari keruntuhan dengan mengadakan reorganisasi negara secara modern, membentuk dan mengembangkan nasionalisme Turki, dan mempersatukan Turki ke dalam satu bahasa, bangsa dan negara. Gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh Kemal Pasha semakin kuat dalam menghadapi Barat dan mendapatkan dukungan rakyat hingga berhasil menghapuskan sistem kesultanan. Republik Turki berdiri pada tanggal 29 Oktober 1923 dan Kemal Pasha menjadi presiden yang pertama.

  1. Gerakan Nasionalisme Mesir

Ada beberapa sebab munculnya nasionalisme Mesir. Munculnya gerakan Wahabi yang menentang penjajahan Turki mampu mempersatukan rakyat Mesir. Apalagi rakyat Mesir memperoleh pengaruh dari Revolusi Prancis yang dibawa Napoleon saat menduduki Mesir tahun 1798. Paham liberal yang melanda Mesir menyebabkan munculnya kelompok terpelajar yang berorientasi modern. Mereka pernah menempuh pendidikan di Eropa dan berbagai universitas ternama di Beirut dan Damsyik.

Nasionalisme Mesir juga terpengaruh Gerakan Turki Muda. Nilai-nilai persatuan yang diperjuangkan nasionalis Turki mampu menggugah semangat bangsa Mesir untuk bersatu. Apalagi muncul gerakan Pan-Arab yang dipelopori oleh Amir Chetib Arslan yang menganjurkan agar bangsa-bangsa Arab bersatu dan memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.

Nasionalisme Mesir ditandai oleh munculnya pemberontakan Arabi Pasha (1881–1882) terhadap Inggris. Setelah PD-I, Mesir menuntut kemerdekaan kepada Inggris. Akhirnya tahun 1922, Mesir menjadi kerajaan di bawah persemakmuran Inggris. Tahun 1936 Mesir menjadi negara yang merdeka penuh. Selanjutnya, Terusan Suez dikuasai Mesir kembali pada tahun 1956 setelah dinasionalisasi oleh Gamal Abdul Nasser.

Menjamurnya gerakan kebangsaan di Indonesia dengan dukungan dan solidaritas dari tokoh-tokoh pergerakan di Asia membuat pemerintah kolonial Belanda merasa khawatir. Apalagi gerakan pergerakan semakin radikal, nonkooperatif, dan kesadaran rakyat semakin meningkat. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda merasa perlu menambah pasal-pasal dalam Wetboek van Strafrecht atau Buku Hukum Pidana yang bisa menjerat dan mengendalikan pergerakan nasional. Dengan alasan membahayakan keamanan dan ketertiban umum, pemerintah kolonial bisa menangkap dan memenjarakan tokoh-tokoh pergerakan.

Penerapan pasal itu jelas berpengaruh pada aktivitas pergerakan para tokoh. Karena para polisi memperlakukannya secara fasis dan kejam. Para pemimpin pergerakan ditangkap dan dipenjara di Digul dan Endeh tanpa proses hukum yang jelas. Dampaknya adalah melunaknya pergerakan nasional yang ditandai dengan tampilnya organisasi pergerakan yang bersifat kooperatif, antara lain Partai Indonesia Raya di bawah Sutomo dan Partai Indonesia Raya (Parindra) serta Regentenbond atau Persatuan Bupati. Kelompok-kelompok ini mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda dengan mengirimkan wakilnya untuk duduk di Volksraad.

 

Baca Artikel Lainnya: