Materi Mu’tazilah
Pendidikan

Materi Mu’tazilah

Materi Mu’tazilah

Materi Mu’tazilah

  1. Mu’tazilah

Secara etimologi, Mu’tazilah berasal dari kata “i’tizal” yang artinya menunjukkan kesendirian, kelemahan, keputus-asaan, atau mengasingkan diri.[1] Dalam Al-Qur’an, kata-kata ini diulang sebanyak  sepuluh kali yang kesemuanya mempunyai arti sama yaitu al ibti’âd ‘ani al syai-i (menjauhi sesuatu) seperti dalam ayat:
فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَ ْلقَوْا اِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيْلاً

  Artinya:
“Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk melawan dan membunuh) mereka.” (QS. An-Nisa’: 90).

Sedang secara terminologi sebagian ulama mendefenisikan Mu’tazilahsebagai satu kelompok dari Qodariyah yang berselisih pendapat dengan umat Islam yang lain dalam permasalahan hukum pelaku dosa besar yang dipimpin oleh Washil bin Atho’ dan Amr bin Ubaid pada zaman Al Hasan Al-Bashri.

Kaum Mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan – persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis daripada persoalan – persoalan yang dibawa kaum Khawarij dan murji’ah. Aliran Mu’tazilah (memisahkan diri) muncul di Basra, Irak, di abad 2 H. Kelahirannya bermula dari tindakan Washil bin Atha’ (700 – 750) berpisah dari gurunya Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat.

Pada saat Imam Hasan al-Bashir sedang mengajar di Masjid, ada seseorang bertanya tentang orang yang berdosa besar, apakah masih beriman atau telah kafir. Beliaupun diam sejenak untuk berfikir. Saat itulah Washil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin, bukan kafir yang berarti ia fasik. Kemudian ia membentuk jama’ah baru di sudut lain masjid. Imam Hasan al-Bashir berkata “Ia telah I’tizal (mengasingkan diri) dari kita.” Jadi mu’tazilah adalah orang yang mengasingkan yang mengasingkan dari Imam Hasan al-Bashir,sesuai dengan perkataan beliau tersebut.

Tokoh – tokoh Mu’tazilah yang terkenal ialah :

  1. Washil bin Atha’, lahir di Madinah, pelopor ajaran ini.
  2. Abu Huzail al-Allaf (751 – 849), penyusun 5 ajaran pokok Mu,tazilah.
  3. an-Nazzam, murid Abu Huzail al-Allaf.
  4. Abu ‘Ali Muhammad bin ‘Abdul Wahab / al-Jubba’I (849 – 915).

Ajaran Mu’tazilah kurang diterima oleh kebanyakan ulama’ Sunni karena aliran ini beranggapan bahwa akal manusia lebih baik dibanding kebanyakan umat Islam. Kaum Mu’tazilah tidak disukai juga karena sikap mereka yang memakai kekerasan dan menyiarkan ajaran – ajaran mereka di permulaan abad ke-9 Masehi.

Namun pada zaman ke Kholifahan al-Ma’mun, aliran Mu’tazilah sempat mengalami puncak kejayaan, karena aliran Mu’tazilah diakui sebagai mazhab resmi yang dianut Negara.

Sepeninggal al-Ma’mun, aliran Mu’tazilah mengalami perlemahan yang disebabkan al-Mu’tasim dan al-Wasiq (824 – 847 M) sebagai pengganti al-Ma’mun tidak berani menjatuhkan hukum bunuh atas dirinya.

  1. Ahlu Sunnah Waljama’ah (ASWAJA)

Ahlussunnah Wal Jama’ah Menurut Syekh Abu al-Fadl ibn Syekh ‘Abdus Syakur al-Senori dalam kitab karyanya “al-Kawâkib al-Lammâ‘ah fî Tahqîq al-Musammâ bi Ahli al-Sunnah wa al-Jamâ‘ah” (kitab ini telah disahkan oleh Muktamar NU ke XXlll di Solo Jawa Tengah) menyebutkan definisi Ahlussunnah wal jama’ah sebagai:kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi saw. dan thariqah para sahabatnya dalam hal akidah, amaliyah fisik (fiqh), dan akhlaq batin (tasawwuf). Syekh ‘Abdul Qodir al-Jilani mendefinisikan Ahlussunnah wal jama’ah sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan as-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. (meliputi ucapan, prilaku, serta ketetapan beliau). Sedangkan yang dimaksud dengan pengertian jama’ah adalah segala sesuatu yang yang telah disepakati oleh para sahabat Nabi saw. pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin yang empat yang telah diberi hidayah Allah.”

Sesuai dengan sabda Nabi SAW dalam hadistnya :

اَصْحَا بِى كَالنُّجُوْمِ بِاَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ

“Para sahabatku bagaikan bintang – bintang (di langit), dengan yang mana pun kamu ikuti niscaya memperoleh petunjuk.”

Jadi, mengikuti jejak para sahabat, baik sahabat besar maupun sahabat kecil adalah perbuatannya kaum ahlu sunnah waljama’ah dari masa ke masa, bahkan sampai dengan hari kiamat insya ALLAH.

Secara historis, para imam Aswaja di bidang akidah telah ada sejak zaman para sahabat Nabi saw. sebelum munculnya paham Mu’tazilah. Imam Aswaja pada saat itu diantaranya adalah ‘Ali bin Abi Thalib ra., karena jasanya menentang pendapat Khawarij tentang al-Wa‘d wa al-Wa‘îd dan pendapat Qadariyah tentang kehendak Allah dan daya manusia. Di masa tabi’in ada beberapa imam, mereka bahkan menulis beberapa kitab untuk mejelaskan tentang paham Aswaja, seperti ‘Umar bin ‘Abd al-Aziz dengan karyanya “Risâlah Bâlighah fî Raddi ‘alâ al-Qadariyah”. Para mujtahid fiqh juga turut menyumbang beberapa karya teologi untuk menentang paham-paham di luar Aswaja, seperti Abu Hanifah dengan kitabnya “Al-Fiqh al-Akbar”, Imam Syafii dengan kitabnya “Fi Tashîh al-Nubuwwah wa al-Radd ‘alâ al-Barâhimah”. Generasi Imam dalam teologi Aswaja sesudah itu kemudian diwakili oleh Abu Hasan al-Asy’ari (260 H – 324 H), lantaran keberhasilannya menjatuhkan paham Mu’tazilah.

Ada beberapa pendapat para ahli tentang kapan muncul istilah Aswaja, diantaranya:

Pertama, ada yang mengatakan bahwa istilah tersebut telah lahir sejak zaman Nabi Muhammad SAW . Bahkan beliau sendiri yang melahirkan melalui sejumlah hadist yang diucapkan.

Kedua, yakni Aswaja lahir pada abad II Hijriah, yaitu di masa puncak perkembangan ilmu kalam (teologi Islam) yang ditandai dengan berkembangannya aliran modern dalam teologi Islam yang dipelopori oleh kaum mu’tazilah (rasionalisme). Imam Abu Hasan al-Asy’ari tampil dalam membela akidah Islamiah dan mengembalikannya kepada kemurnian yang asli. Dari pergerakan beliau itulah kemudian para pengikutnya menyebut sebagai “Ahlus Sunnah Waljama’ah”.

Ajaran Islam adalah sempurna yang bersifat universal, tentunya membutuuhkan kajian dan penafsiran yang cermat supaya menghasilkan akurasi kesimpulan hukum yang tepat. Maka Aswaja juga berpedoman terhadap pemikiran para mujtahid yang dianggap lebih mampu dalam menginterpretasi dari sumber utamanya.

Aswaja dalam penerapan ajarannya sangat kondisional dengan lingkungan, sehingga terjadi akulturasi dengan kultur dan sosial masyarakat sekitarnya. Dengan kelenturannya menjadikan Aswaja dinamis dan menjadi inspirasi umat karena responsive terhadap segala permasalahan umat.


Baca Juga :