Mengenal Tentang Jenis-Jenis Uang

Mengenal Tentang Jenis-Jenis Uang

Mengenal Tentang Jenis-Jenis Uang

Mengenal Tentang Jenis-Jenis Uang
Mengenal Tentang Jenis-Jenis Uang

 

Menurut nilainya, uang dibedakan menjadi uang penuh (full bodied money), uang tanda (token money) dan Uang Hampir Likuid Sempurna.

Uang Tanda / Uang Fiat / Uang Token

Nilai uang dikatakan sebagai uang tanda atau uang Fiat, apabila nilai yang tertera diatas uang (nilai Nominalnya) lebih tinggi dari nilai bahan yang digunakan untuk membuat uang Uang tersebut menjadi berharga karena pemerintah dan masyarakat telah sepakat untuk menerima uang tersebut dengan nilai tertentu atau dengan kata lain nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsik uang tersebut. Misalnya, uang Rp. 50.000,- biaya produksinya mungkin tidak sampa Rp. 20.000 perlembarnya, namun lembaran uang tersebut memiliki nilai sama dengan emas senilai Rp. 50.000,-. Contoh : uang kertas

Uang Komoditas (Uang Penuh atau Full bodied Money)

Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh (uang Komoditas), apabila nilai yang tertera diatas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain nilai nominal = nilai intrinsik. Jaman dulu perunggu, perak dan emas dijadikan sebagai alat tukar transaksi ekonomi yang nilainya berbeda-beda satu sama lain di mana emas lebih tinggi dari perak dan perak lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan perunggu. Contoh: uang emas, uang perak.

Uang Hampir Likuid Sempurna

Uang hampir likuid sempurna adalah suatu aset yang dapat dijadikan sebagai uang namun tidak semua pelaku ekonomi mau menerima sebagai alat pembayaran, karena harus ditukarkan lebih dulu dengan uang likuid (uang fiat dan komoditas), jika ingin digunakan pada seluruh pelaku ekonomi. Contohnya seperti cek yang dapat dipakai di beberapa tempat sebagai alat pembayaran yang dapat dicairkan menjadi uang sungguhan.

Menurut bahan pembuatannya, uang dibedakan menjadi uang logam danuang kertas.

Uang logam

Uang logam adalah uang yang terbuat dari emas atau perak karena emas dan perak memenuhi syarat-syarat uang yang efisien. Kedua logam itu memiliki nilai yang cenderung tinggi dan stabil, bentuknya mudah dikenali, sifatnya yang tidak mudah hancur, tahan lama, dan dapat dibagi menjadi satuan yang lebih kecil tanpa mengurangi nilai. Hal inilah yang menyebabkan emas dan perak, dapat diterima dimasyarakat sebagai alat tukar
Uang logam memiliki tiga macam nilai:

  1. Nilai intrinsik, yaitu nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa nilai emas dan perak yang digunakan untuk mata uang.
  2. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum pada mata uang atau cap harga yang tertera pada mata uang. Misalnya seratus rupiah (Rp. 100,00), atau lima ratus rupiah (Rp. 500,00).
  3. Nilai tukar, yaitu kemampuan uang untuk dapat ditukarkan dengan suatu barang (daya beli uang). Misalnya uang Rp. 500,00 hanya dapat ditukarkan dengan sebuah permen, sedangkan Rp. 10.000,00 dapat ditukarkan dengan semangkuk bakso).

Ketika pertama kali digunakan, uang emas dan uang perak dinilai berdasarkan nilai intrinsiknya, yaitu kadar dan berat logam yang terkandung di dalamnya; semakin besar kandungan emas atau perak di dalamnya, semakin tinggi nilainya. Tapi saat ini, uang logam tidak dinilai dari berat emasnya, namun dari nilai nominalnya. Nilai nominal adalah nilai yang tercantum atau tertulis di mata uang tersebut.

Uang kertas

Uang kertas merupakan tahap evolusi penting dari sejarah uang. Meski terbuat dari kertas, uang tidak mudah dipalsukan. Uang kertas juga lebih mudah dibawa kemana-mana dibanding dengan uang logam. Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah.

Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).

 

(Sumber: https://balad.org/)