Pendidikan

Metode Penyampaian Qira’at

Metode Penyampaian Qira’at

            Menurut Dr. Muhammad bin Alawi Al-Malik, bahwa di kalangan ahli hadits ada beberapa periwayatan atau penyampaian qira’ah diantaranyaMendengar langsung dari guru (al-Sima’)

  1. Membacakan teks atau hafalan didepan guru (al-Qira’ah ‘ala al-Syaikh)
  2. Melalui ijazah dari guru kepada murid
  3. Guru memberikan sebuah naskah asli kepada muridnya atau salinan yang dikoreksinya untuk diriwayatkan (al-Munalah)
  4. Guru menuliskan sesuatu untuk diberikan kepada muridnya (Mukatabah)
  5. Wasiat dari guru kepada para murid-muridnya
  6. Pemberitahuan tentang qira’ah tertentu (al-I’lam)
  7. Hasil temuan (al-Wijadah)

            Para imam qira’ah, baik salaf maupun kholaf dalam meriayatkan lebih banyak menggunakan metode qira’ah ‘ala as-Syaikh. Metode ini juga digunakan oleh Nabi saw. Ketika beliau menyodorkan bacaan al-Qur’an di hadapan Jibril pada setiap bulan Ramadhan. Adapun metode Al-Sima’ tidak digunakan oleh para imam qira’ah dengan beberapa alasan:

  1. Karena yang mendengar langsung dari Nabi hanyalah para sahabat. Sedang mayoritas para imam qira’ah tidak pernah mendengarkan secara langsung dari Nabi saw.
  2. Setiap murid yang mendengar langsung dari gurunya tidak mampu secara persis meriayatkan apa yang telah didapat dari gurunya. Sedang para sahabat dengan kualitas kefasihan yang baik, mereka mampu menyampaikan al-Qur’an sama persis seperti yang mereka dengarkan dari Nabi.

 

2.5 Pengaruh Qira’at dalam Mengistinbath Hukum

 

 

            Dalam hal istimbat hukum, qiraat dapat membantu menetapkan hukum secara lebih jeli dan cermat. Perbedaan qiraat al-Qur’an yang  berkaitan dengan substansi lafaz atau kalimat, adakalanya mempengaruhi makna dari lafaz  tersebut adakalanya tidak. Dengan demikian, maka perbedaan qiraat al-Qur’an adakalanya berpengaruh terhadap istimbat hukum dan adakalanya tidak.

  1. Perbedaan qira’at yang berpengaruh terhadap istinbat Hukum

            Qira’at shahihah (Mutawatir dan Masyhur) bisa dijadikan sebagai tafsir dan penjelas serta dasar penetapan hukum, misalnya qira’at  membantu penafsiran qira’at (لَامَسْتُمْ) dalam menetapkan hal-hal yang membatalkan wudu seperti dalam  Q.S Al-Nisa’  (4): 43 :

baca juga ;