Pendidikan

Pemikiran Ekonomi Islam

Pemikiran Ekonomi Islam

Terminologi pemikiran ekonomi Islam di sini mengandung dua pengertian, yaitu pemikiran ekonomi yang dikemukakan oleh para sarjana Muslim dan pemikiran ekonomi yang didasarkan atas agama Islam. Dalam realitas kedua pengertian ini sering kali menjadi kesatuan, sebab para sarjana Muslim memang menggali pemikirannya mendasarkan pada ajaran Islam. Pemikiran ekonomi dalam Islam bertitik tolak dari Al-Qur’an dan Hadis yang merupakan sumber dan dasar utama Syariat Islam. Oleh karena itu, sejarah pemikiran ekonomi Islam sesungguhnya telah berawal sejak Al-Qur’an dan Hadis ada, yaitu pada masa kehidupan Rasulullah Muhammad saw, abad ke-7 Masehi. Pemikiran-pemikiran para sarjana Muslim pada masa berikutnya pada dasarnya berusaha mengembangkan konsep-konsep Islam sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan tetap bersandar kepada Al-Qur’an dan Hadis. Memang harus diakui secara jujur bahwa para sarjana Muslim pasca Rasulullah banyak membaca karya-karya pemikir Yunani-Romawi, sebagaimana juga karya Syrian-Alexandrian, Zoroastrian, dan India. Namun demikian, mereka ini melainkan memperdalam, mengembangkan, memperkaya dan memodifikasinya sesuai dengan ajaran Islam (Nakosten, Mehdi, 1994)

Siddiqi telah membagi sejarah pemikiran ini menjadi tiga periode, yaitu periode pertama/fondasi (Masa awal Islam -450 H/1058 M), periode kedua (450-850H/1058-1446 M), dan periode ketiga (850-1350 H/ 1446-1932 M). Periodesasi ini masih didasarkan pada kronologikal (urutan waktu) semata, bukan berdasarkan kesamaan atau kesesuaian ide pemikiran. Hal ini dilakukan karena studi tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam masih pada tahap eksplorasi awal.[12]

1)      Periode Pertama/Fondasi (Masa Awal Islam – 450 H/1058 M)

Pada periode ini banyak sarjana Muslim yang pernah hidup bersama pada sahabat Rasulullah dan para tabi’in sehingga dapat memperoleh referensi ajaran Islam yang autentik. Beberapa di antara mereka antara lain: Hasan Al Basri, Zayd bin Ali, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad Bin Hasan al Syahbani, Yahya Bin Adam, Syafi’i, Abu Ubayd, Ahmad bin Hanbal, Al-Kindi, Junayd Baghdadi, Al-Farabi, Ibnu Miskwayh, Ibnu Sina, dan Mawardi.[13]

2)      Periode Kedua (450-850 H/ 1058-1446 M)

Pemikiran ekonomi pada masa ini banyak dilatarbelakangi oleh menjamurnya korupsi dan dekadensi moral, serta melebarnya kesenjangan antara golongan miskin dan kaya, meskipun secara umum kondisi perekonomian masyarakat Islam berada dalam taraf kemakmuran. Terdapat pemikir-pemikir besar yang karyanya banyak dijadikan rujukan hingga kini, misalnya: Al-Ghazali, Nasirudin Tutsi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Al-Maghrizi, Abu Ishaq Al-Shatibi, Abdul Qadir Jaelani, Ibnu Qayyim, Ibnu Baja, Ibnu Tufayl, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi. Para pemikir ini memang berkarya dalam berbagai bidang ilmu yang luas, tetapi ide-ide ekonominya sangat cemerlang dan berwawasan ke depan.[14]

baca jgau :