Pengertian Kufur dan Ayatnya
Agama

Pengertian Kufur dan Ayatnya

Pengertian Kufur dan Ayatnya

Pengertian Kufur dan Ayatnya
Pengertian Kufur dan Ayatnya

Pengertian Kufur

Salah satu esensi kufr dalam Al Qur’an adalah menutup nutupi nikmat dan kebenaran, baik kebenaran dalam arti Tuhan(segala sumber kebenaran) maupun kebenaran dalam arti ajaran ajaran Nya yang disampaikan melalui rasul rasulNya.

Secara semantis, term kufr mempunyai keterkaitan kuat dengan term lain dalam al Qur’an yang mengandung etika buruk. Term term yang, selain term kufr sendiri adalah: juhud,ilhad, inkar, dan syirk. Sedangkan term term lain yang secara tidak langsung dan implicit, mengandung makna kekafiran adalah: fusuq, dzulm, fujur, ijram, dalal dan ghayi, fasad, i’tida, israf, isyan, kibr(takabbur, istikbar), kidzb, dan ghaflat. Term term ini bila muncul dalam bentuk isim fa’il, umumnya merujuk pada orang kafir. Hal ini membuktikan bahwa kufr adalah term yang berdimensi banyak, dapat dilihat dari segala aspek makna, dan sekalius menempati posisi sentral dari seluruh etika jahat dalam Islam.

Di dalam al Qur’an, perintah dan dorongan untuk meniliti alam semesta beberapa kali ditujukan kepada orang kafir yang mendustakan al Qur’an disuruh untuk melihat dan memikirkan bagaimana langit dibangun dengan sempurna tanpa cela dan bagaimana kokohnya dan indahnya bumi yang dipasok dengan gunung gunung dan ditanami dengan aneka macam tanaman yang elok di pandang mata. Di ayat lain, Tuhan menjelaskan bahwa terhadap orang orang kafir tu, akan diperlihatkan tanda tanda kebesaran dan kekuasaan Nya disegenap ufuk dan pada diri mereka sendirri sehingga jelaslah bagi meeka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Secara tidak langsung, orang orang kafir dihimbau untuk meniliti proses penciptaan alam semesta ini dengan harapan mereka dapat sampai pada titik iman.

Ayat Tentang Kufur

1. Surat Al-Baqarah ayat 6-7

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
‘’Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan ada penutup. Dan bagi mereka siksa yang amat pedih.’’
Kebiasaan memadukan dua hal yang bertentangan dalam al Qur’an ditempuh dalam ayat ini, salah satu tujuannya adalah untuk menghidangkan perbandingan antara keduanya sehingga mendengarnya tertarik mengarah hal yang bersifat positif. Yakni setelah menyebut sifat sifat orang bertakwa dijelaskannya sifat orang orang kafir. Setelah membahas betapa petunjuk al Qur’an bermanfaat untuk orang yang bertakwa, dijelaskan disini betapa petujuk petunjuk tidak bermanfaat untuk orang orang kafir sehingga, baik diberi peringatan maupun tidak, tetap saja mereka dalam kekufuran.

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

2. Surat Al-Kafirun ayat 1-6

Prinsip lain yang diterapkan al Qur’an dalam membina hubungan keagaamaan dengan non muslim adalah tertutupnya kemungkinan untuk bekerja sama dalam masalah masalah yang langsung menyangkut ibadah mahdhoh dan akidah. Ketika Muhammad SAW di ajak oleh kaum musyrikin Makkah untuk berkompromi dan bekerja sama dalam menyembah Allah dan tuhan tuhan mereka, secara bergilir al Qur’an menolak secara tegas ajakan itu dengan turunnya surat al Kafirun di bawah ini:
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
‘’ Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (Q.S al Kafirun :1-6)