Pengertian Pendekatan Konstruktivisme
Pendidikan

Pengertian Pendekatan Kontruktivisme

Pengertian Pendekatan Kontruktivisme

Pengertian Pendekatan Konstruktivisme

Nurhadi (2002: 10)

menyatakan bahwa konstruktivisme merupakan mengajarkan pengetahuan yang dibangun manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong- konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan ingat

Dengan menggunakan pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk mengobservasi lingkungan benda-benda, kegiatan-kegiatan atau gambar yang berhubungan dengan pembelajaran. Dalam pendekatan ini siswa diberi kebebasan untuk memahami pelajaran sesuai dengan pandangan.

Konstruktivisme dalam arti dasar adalah membangun. Dimana yang dibangun adalah konsep/materi yang akan dipelajari, yang mana konsep tesebut dibangun oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran kostruktivisme disini berarti suatu cara dimana individu atau peserta didik tidak sekedar mengimitasi dan membentuk bayangan dari apa yang diamati atau yang diajarkan guru, tetapi secara aktif individu atau anak didik itu menyeleksi, menyaring, memberi arti dan menguji kebenaran atas informasi yang diterimanya.

 Pembelajaran konstruktivistik adalah salah satu pandangan dari proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran (memperoleh pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif dapat diselesaikan hanya melalui pengetahuan yang akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalaman dari interaksi dengan lingkungan. Konflik kognitif terjadi ketika interaksi antara konsepsi awal sudah memiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga perubahan yang diperlukan/modifikasi untuk mencapai keseimbangan struktur kognitif. Konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan dibuat atau terbangun dipikiran siswa sendiri ketika ia mencoba untuk mengatur pengalaman barunya berdasarkan kerangka kognitif yang ada dalam pikiran, sehingga pembelajaran pendidikan kewarganegaraan  adalah proses memperoleh pengetahuan yang diciptakan atau dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui pengalaman transformasi individu siswa. Selain itu, pentingnya pemecahan masalah keterampilan, terutama ketika siswa bekerja atau belajar di bahan lain, akan memerlukan perubahan dalam proses pembelajaran.

Dalam pendekatan ini, peserta didik dianjurkan untuk bertukar fikiran melalui tahap pencetusan ide. Tahap ini juga dapat merangsang peserta didik meninjau semula ide asal mereka. Dalam tahap penggunaan ide, peserta didik boleh menggunakan ide baru mereka untuk menyelesaikan masalah dan menerangkan fenomena yang berkaitan dengan ide-ide itu. Tahap mengingat kembali merupakan tahap terakhir. Dalam tahap ini peserta didik membandingkan ide asal mereka dengan ide baru dan merenung kembali proses pembelajaran yang telah mengakibatkan perubahan ke atas ide mereka. Tahap ini juga dapat memperkembangkan kemahiran meta kognitif peserta didik di MI/SD.


Baca Juga :