Penjualan dengan Hak Retur
Pendidikan

Penjualan dengan Hak Retur

Penjualan dengan Hak Retur

Penjualan dengan Hak Retur
Penjualan dengan Hak Retur

Tiga metode pengakuan pendapatan alternative apabila penjual menanggung resiko kepemilikan yang berkepanjangan karena pengembalian produk, yaitu:
1. Tidak mencatat penjualan sampai seluruh hak retur habis masa berlakunya,
2. Mencatat penjualan, tetapi mengurangi penjualan dengan estimasi retur di masa depan,
3. Mencatat penjualan serta memperhitungkan retur pada saat terjadi.

FASB menyimpulkan bahwa jika suatu perusahaan menjualproduknya tetapi memberikan pembeli hak untuk mengembalikan produk itu, maka pendapatan dari transaksi penjualan ini akan diakui pada saat penjualan hanya jika semua dari enam kondisi berikut terpenuhi:
1. Harga penjual kepada pembeli pada hakikatnya tetap (fixed) atau dapat ditentukan pada tanggal penjualan,
2. Pembeli sudah membayar penjual, atau pembeli berkewajiban untuk membayar penjual, dan kewajiban itu tidak tergantung pada penjualan kembali produk tersebut,
3. Kewajiban pembeli kepada penjual tidak akan berubah apabila terjadi pencurian atau kerusakan dfisik produk,
4. Pembeli yang memperoleh produk untuk dijual kembali memiliki substansi ekonomi yang terpisah dari yang diberikan oleh penjual,
5. Penjual tidak memiliki kewajiban yang signifikan atas kinerja masadepan yang secara langsung menyebabkan penjualan kembali produk itu oleh pembeli,
6. Jumlah retur di masa depan dapat diestimasi secara layak.

Trade Loading dan Channel Stuffing
Trade loading dan cannel stuffing merupakan keputusan serta kebijakan manajemen dan pemasaran yang melambungkan penjualan, menyimpangkan hasil operasi dan menghias laporan keuangan. Jika digunakan tanpa ketentuan yang tepat untuk retur penjualan,channel stuffing merupakan contoh klasik dari pembukuan hari ini atas pendapatan yang akan dating. Praktek trade loading dan channel stuffing harus dilarang. Para manajer bisnis perlu menyadari adanya bahaya etis darimenyesatkan komunitas keuangan dengan terlibat dalam praktek semacam itu untuk memperbaiki laporan keuangannya.

Pengakuan Pendapatan Sebelum Penyerahan
Ada dua metode akuntansi yang sangat berbeda untuk kontrak konstruksi jangka panjang yang diakui oleh profesi akuntansi:
1. Metode Presentase Penyelesaian. Pendapatan laba kotor diakui setiap periode berdasarkan kemajuan proses konstruksi,yaitu presentase penyelesaian.
2. Metode Kontrak Selesai. Pendapatan dan laba kotor hanya diakui pada saat kontrak diselesaikan.
Profesi akuntansi mewajibkan bahwa metode presentase penyelesaian harus digunakan apabila estimasi kemajuan ke arah penyelesaian, pendapatan, serta baiaya secara layak dapat dipercaya, dan semua syarat berikut ini terpenuhi:
1. Kontrak itu secara jelas menetapkan hak-hak yang dapat dipaksakan pemberlakuannya mengenai barang atau jasa yang akan diberikan dan diterima oleh pihak yang terlibat dalam kontrak, imbalan yang akan dipertukarkan, serta cara dan syarat penyelesaian
2. Pembeli dapat diharapkan untuk memenuhi semua kewajiban dalam kontrak,
3. Kontraktor dapat diharapkan untuk melaksanakan kewajiban kontraktual tersebut.

Metode kontrak selesai (completed contract method) harus digunakan hanya :
1. Jika suatu entitas terutama mempunyai kontrak jangka pendek,
2. Jika syarat-syarat untuk menggunakan metode presentase penyelesaian tidak dapat dipenuhi,
3. Jika terdapat bahaya yang melekat dalam kontrak itu diluar resiko bisnis yang normal danberulang.
Asumsinya adalah bahwa metode presentase penyelesaian merupakan metode yang lebih baik danmetode kontrakselesai hanya akan digunakan jika metode presentase penyelesaian dianggap tidak tepat.

Sumber : https://aldirenaldi.blog.institutpendidikan.ac.id/seva-mobil-bekas/