Pendidikan

Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam

Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam

            Sebelum timbulnya sekolah dan universitas yang kemudian dikenalsebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sebenarnya telah berkembang lembaga–lembaga pendidikan Islam yang bersifat non formal. Lembaga–lembaga ini berkembang terus dan bahkan bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya bentuk – bentuk lembaga pendidikan non formal yang semakin luas.

 Diantara lembaga – lembaga pendidikan Islam yang bercorak non formal tersebut adalah :

              Kuttab sebagai lembaga pendidikan dasar Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Jadi katab adalah tempat belajar menulis. Diantara penduduk Mekkah yang mula – mula belajar menulis huruf arab adalah sufyan Ibnu Umayyah Ibnu Abdu Syams, dan Abu Qais Ibnu Abdi Manaf Ibnu zuhroh Ibnu Kilat. Keduanya mempelajarinya di negeri Hirah. Sewaktu agama Islam diturunkan Allah sudah ada di antara para sahabat yang pandai tulis dan membaca.ayat alquran yang pertama diturunkan adalah memerintahkan untuk membaca dan memberikan gambaran bahwa kepandaian membaca dan menulis merupakan sarana utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam. Karena tulis baca semakin terasa perlu maka khuttab sebagai tempat belajar tulis membaca terutama bagi anak-anak berkembang dengan pesat. Pada mulanya kuttab dilaksanakan dirumah-rumah, guru-guru yang bersangkutan dan diajarkan adalah menulis dan membaca. Kemudian pada akhir abad pertama hijriah mulai timbul jenis kuttab yang disamping memberikan pelajaran menulis dan membaca juga mengajarkan membaca alquran dan pokok-pokok ajaran agama. Selanjutnya, berkembang kuttab tersebut manjadi lembaga pandidikan dasar yang bersifat formal yang mengajarkan ilmu bacaan, hitungan, tulisan, dan tempat para remaja belajara dasar-dasar ilmu agama fiqih, hadis, dan bahasa.

                       Pendidikan rendah di istana Timbulnya pendidikan rendah di isatana untuk anak-anak para pejabat adalah berdasarkan pemikiran bahwa pedidikan itu harus bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tuganya kelak setelah ia dewasa. Olek karena itu mereka memanggil guru-guru khusus pad anak-anak mereka. Pendidikan di istanberbeda dengan pendidikan anak-anak di kuttab pada umumnya. Istana, orang tua yang membuat rencana pembelajaran agarselaras dengan anaknya dan tujuan yang dihendaki orang tua tercapai. Guru yang mengajar di istana disebut mu’addib, karena berfungsi mendidik budi pengerti dan mewariskan kecerdasan, pengetahuan-pengetahuan orang-orang terdahulu kepada anak pejabat.

         Toko-toko kitab Pada permulaan daulat abbasiah, di mana ilmu pengetahuan dan kebuadayaan islam sudah tumbuh dan berkembang yang diikuti oleh penulisan kitab-kitab dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan maka berdirilah tokotoko kitab. Saudagar-saudagar buku itu bukanlah semata- semata mencari keuntungan akan tetapi kebanyakan mereka sastrawa-sastrawan yang telah memilih usaha sebagai pedagang kita agar mereka dapat kesempatan yang baik untuk membaca, menelaah dan bergaul dengan para ulama dan para pujangga. Dengan demikian toko-toko kitab berkembang fungsinya sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan ahli ilmu untuk berdiskusi, berdebat dalam berbagai masalah ilmiah. Jadi segalikus sebagi lembaga pendidikan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

     Rumah-rumah para ulama Walaupun sebenarnya rumah bukanlah tempat yang baik untu memberikan pelajaran namun pada zaman kejayaan perkembanga ilmu pengetahuan, kebudayaan islam banyak juga rumah para ulama di jadikan tempat belajar dan perkembangan ilmu pengetahuan di antaranya : Rumah Ibnu Sina, Algazali, Ali Ibnu Muhammad Fasihi, Ya’kub Ibnu Killis, Wazir khalifah Al Aziz dan lain-lain.

       Majelis atau salon kesusastraan Majlis maksudnya adalah suatu majelis khusus yang diadakan khalifah untuk membahas macam- macan ilmu pengetahuan. Majelis ini bermula sejak khalifah al rasyidin. Pada harun alrasid (170- 193 hijriyah) majlis sastra ini mengalami kemajuan yang luar bisaa karena khalifah sendiri adalah ahli ilmu pengetahuan dan juga mempunyai kecerdasan sehingga khalifah aktif didalamnya. Di samping itu pada masa tersebut dunia islam diwarnai oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masanya sering di adakan pelombaan antar ahli-ahli syair, perdebatan antar fuqaha, dan diskusi diantara para sarjana berbagi macan ilmu pengetahuan, juga diadakan sayembara diantara ahli kesenian dan pujangga

sumber
https://goodluckdimsum.com/soccer-revolution-apk/