Pendidikan

Presepsi Islam tentang Etika Bisnis

Presepsi Islam tentang Etika Bisnis

Dalam al-Quran dan hadis banyak terdapat ayat-ayat tentang karakter etis dan kode moral seseorang dalam berprilaku. Islam menekankan untuk mengikuti norma-norma etika tidak hanya dalam kehidupan pribadi dan keluarga tetapi juga dalam urusan bisnis dan transaksi.[3]

Islam adalah cara hidup yang lengkap. Ini memberikan panduan untuk semua kegiatan baik ini individu, sosial, material dan moral, hukum dan budaya, ekonomi dan politik dan nasional atau internasional. Islam mengajak manusia untuk memasuki flip Islam tanpa kebimbangan apapun dan mengikuti bimbingan Allah dalam semua bidang kehidupan. (Khurshid Ahmad, 1999).

Quran ayat dan ajaran nabi memberitahu kita tentang berbagai norma etika yang harus diikuti yaitu dalam kontrak sosial kita, kontrak dengan keluarga, di kesetaraan gender, kontrak dengan individu, transaksi mengenai tetangga, teman, kerabat, dalam transaksi bisnis publik.

Islam dalam  hukum  pada dasarnya dari dua jenis a) pengakuan sederhana dengan lidah b) yang lain yang bersama dengan pengakuan, ada keyakinan di hati dan pemenuhan dalam praktek, dan tawakkal kepada Allah. Arti lain dari Islam adalah perdamaian, jika satu pengajuan dan ketaatan kepada Allah, salah satu yang dapat mencapai perdamaian yang nyata dari tubuh dan pikiran dan yang membawa perdamaian nyata untuk masyarakat luas. (Khurshid Ahmad, 1999).

Al-quran menganggap bahwasannya bisnis itu adalah tindakan yang halal dan dibolehkan, baik dan sangat menguntungkan, baik secara individu maupun masyarakat.[4] Konsep al-quran tentang bisnis sangatlah komprehensif. Parameter yang dipakai tidak hanya menyangkut dunia saja, namun juga menyangkut urusan akhirat. Bisnis yang benar-benar sukses menurut pandangan al-quran adalah bisnis yang membawa keuntungan pelakunya dalam dua fase kehidupan manusia yang fana dan terbatas yakni dunia dan abadi serta yang tak terbatas yakni akhirat.[5]

Dalam Quran surat Ash-Shaff yang berarti berbaris rapat berisi tentang perintah untuk menegakkan ekonomi Islam umumnya, dan khususya usaha bisnis kaum muslimin, dengan bersatu padu, berbaris rapat antara satu dan yang lainnya dalam segala bidang perekonomian, dan juga lapangan lainnya, seperti berijtihad.[6]


  1. Dampak Pemikiran Sekular terhadap Etika Bisnis Islam[7]

Orang barat  beranggapan bahwa pertumbuhan berbuah di dunia untuk diri mereka sendiri. Mereka berpikir bahwa mereka memainkan peran utama dalam perkembangan dunia, tentang regulasi aturan, mengenai bisnis dan perdagangan, hak asasi manusia, keadilan, pembangunan sosial dan ekonomi, misalnya mereka mengatakan bahwa konsep hak asasi manusia pertama kali muncul di Inggris .

Kurangnya rasa ingin tahu dari generasi muda juga yang menyebabkan Islam kalah saing. Hal ini dapat diharapkan untuk berdiri kembali atau dibangun kembali pikiran orang muda kita untuk mengikuti instruksi dan mengatur hukum Islam tidak hanya dalam transaksi sehari-hari dan rutin mereka, tetapi juga di seluruh hidup mereka.

sumber ;

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/