Riwayah bil Lafdzi dan Riwayah bil ma’na
Agama

Riwayah bil Lafdzi dan Riwayah bil ma’na

Riwayah bil Lafdzi dan Riwayah bil ma’na

Riwayah bil Lafdzi dan Riwayah bil ma’na
Riwayah bil Lafdzi dan Riwayah bil ma’na

Pengertian Riwayat Bi Al-Lafzh Wa Bi Al Ma’na

Sebelum terhimpun dalam kitab-kitab hadis, hadis Nabi terlebih dahulu telah melalui proses kegiatan yang dinamai dengan riwayatul hadis atau al-riwayah, yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan periwayatan. Kata al-riwayah adalah masdar dari kata kerja rawa dan dapat berarti al-naql (penukilan), al-zikr (penyebutan), al-fatl (pemintalan) dan al-istoqa’ (pemberian minum sampai puas).

Sementara secara istilah ilmu hadis, menurut M. Syuhudi Ismail yang dimaksud dengan al-riwayah adalah “Kegiatan penerimaan dan penyampaian hadis, serta penyandaran hadis itu kepada rangkaian para periwayatnya dengan bentuk-bentuk tertentu.

Perawi hadis adalah orang yang menerima hadis dari guru dan kemudian menyampaikan atau mengajarkannya kepada orang lain (murid). Dengan demikian ada dua fungsi perawi, yaitu menerima dan menyampaikan. Seorang sahabat yang menerima hadis dari Rasul, misalnya, tetapi dia tidak menyampaikannya kepada yang lain, maka ia tidak disebut perawi. Adapun proses penerimaan dan penyampaian hadis kepada yang lain disebut periwayatan.

Seorang perawi hadis dituntut menyampaikan hadis yang diterimanya dari rasul atau sahabat kepada yang lain seperti apa yang didengarnya tanpa disertai komentar. Perawi bukan pensyarah atau penjelas hadis yang disampaikan. Apabila ia memberi tambahan penjelasan atau komentar, maka tidak disebut materi hadis. Oleh sebab itu dia bukan perawi yang dipercaya dan diterima riwayatnya.

Beberapa point penting yang harus ada dalam periwayatan hadis adalah sebagai berikut:
Orang yang melakukan periwayatan hadis yang kemudian dikenal dengan rawi (periwayat).
Apa yang diriwayatkan.
Susunan rangkaian para periwayat (sanad/isnad).
Kalimat yang disebutkan sesudah sanad yang kemudian dikenal dengan matan, dan
Kegiatan yang berkenaan dengan proses penerimaan dan penyampaian hadis (at-tahamul wa ada al-hadis).

Pengertian Riwayat Bi Al-Lafzh dan Contohnya

riwayat bi al-lafzh dimaksudkan adalah periwayatan hadist dengan menggunakan lafadz sebagaimana Rasulullah SAW tanpa ada penukaran kata, penambahan dan pengurangan sedikitpun walaupun hanya satu kata. riwayat bi al-lafzh sering juga disebut dengan periwayatan secara lafzhi.

Munzier Suparta memberikan terminologi periwayatan lafzhi adalah periwayatan hadis yang redaksinya atau matannya sama persis seperti yang diwurudkan Rasul SAW dan hanya bisa dilakukan apabila di hafal benar apa yang disabdakan Rasul SAW.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat penulis simpulkan bahwa pengertian tentang riwayat bi al-lafzh yaitu redaki suatu hadits yang diriwayatkan tersebut sama persis seperti yang disampaikan rasulullah.

Baca Juga: Ayat Kursi

Contoh

Contoh hadis yang diriwayatkan dengan lafaz (riwayat bi al-lafz)
– Riwayat Abu Daud
حدثنا أبو بكر بن ابي شيبة حدثنا أبو خالد وأبن نمير عن الأجلح عن أبي اسحق عن البراء قال قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان الّا غفر لهما قبل أن يفترق
“ Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Saibah, menceritakan kepada kami Abu Khalid dan Ibnu Numair dari al-Ajlah dari Abu Ishaq dari al-Bara’, ia berkata Rasulullah SAW. bersabda : Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan kecuali Allah akan memberi ampunan kepada keduanya sebelum mereka berpisah” (HR. Abu Daud).
– Riwayat Ahmad
حدثنا أبن نمير أخبرنا الأجلح عن أبي اسحق عن البراء قال قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان الّا غفر لهما قبل أن يفترقا
– Riwayat Ibnu Majah
حدثنا أبو بكر بن ابي شيبة حدثنا أبو خالد الأحمر و عبدالله بن نمير عن الأجلح عن أبي اسحق عن البراء قال قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان الّا غفر لهما قبل أن يفترقا
– Riwayat al-Tirmidhi
حدثنا سفيان بن وكيع و أسحق بن منصور قال حدثنا عبدالله بن نمير عن الأجلح عن أبي اسحق عن البراء بن عازيب قال قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان الّا غفر لهما قبل أن يفترقا
Dari lima buah hadis tersebut, bisa dilihat sahabat Rasulullah yang menjadi perawi pertama untuk seluruh sanad hadis tersebut adalah al-Barra’bin ‘Azib.
Dimuka telah diketahui bahwa karena perbedaan cara-cara perawi menerima hadits dari guru yang memberikan, maka berbeda pula lafadh-lafadh yang dipakai untuk menyampaikan hadits.