Riwayah bil ma’na
Agama

Riwayah bil ma’na

Riwayah bil ma’na

Riwayah bil ma’na
Riwayah bil ma’na

1. Pengertian

Pengertian riwayah bil ma’na adalah suatu hadis yang redaksinya disusun sendiri oleh perawi tanpa merubah makna.

2. Hukum periwayatan bil ma’na

Sebagian ulama’ hadis menolak periwatan bil ma’na tetapi ada yang membolehkannya dengan syarat yaitu jika perawinya ahli dalam bidang bahasa dan sering memberikan fatwa. Dalam buku yang berjudul kaedah kesahihan sanad hadis memberikan ketentuan yang telah disepakati dalam meriwayatkan hadis bilma’na diantaranya :
a) Yang boleh meriwayatkan hadis secara makna hanyalah mereka yang benar-benarmemiliki pengetahuan b.arabyang mendalam
b) Periwayatan dilakukan karena sangat terpaksa
c) Yang diriwayatkan dengan makna bukanlah sabda nabi dalam bentukbacaan yang sifatnya ta’abudi, misalnya dikir, do’a , azan, takbir, dan syahadat,, seta bukan sabda nabi dalam bentuk jawami’ul kalam.
d) Periwayat yang meriwayatkan hadis secara makna atau yang mengalami keraguan akan susunan matan hadis yang diriwayatkan agar menambahkan kata-kata أوكما قال atau أو نحو هذا .
e) Kebolehan periwayatan hadis secara makna hanya terbatas pada masa sebelum dibukukannya hadis-hadis Nabi secara resmi.

Para sahabat nabi umumnya memperbolehkan periwayatan hadisdengan makna. Diantara mereka itu ialah Ali bin abi thalib, Abdullah bin abban, abdullah bin masud, anas bin malik, abu darda’, abu hurairah dan aisyah. Sebagian kecil sajadari kalangan sahabatcukup ketat berpegang pada periwayatan dan lafal.di antaranya adalah umar bin khatab, abdullah bin umar bin kkhatab, dan zaid arqam. Walaupun demikian, mereka yang ketat berpegang pada periwayatan secara lafal itu tidaklah melarang secara tegas sahabat lain meriwayatkan hadis secara makna.tampaknya mereka memahami bahwa bagaimanapun juga memang sangat sulit seluruh apa yag disabdakan nabi diriwayatkan secara llangsung secara lafal.

Ulama mempersoalkan boleh tidaknya selain sahabat nabi meriwayatkan hadis secara makna. Abu bakar arabi(wafat 573 H= 1148 M) berpendapat, selain sahabat nabi tidak diperkenankan meriwayatkan hadis secara ma’na. Menurut ianu alarabi, sahabat nabi diperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna, karena mereka itu ;1. Memiliki pengetahuan b.arab yang tinggi ( alqashashah wal balaghah) dan 2. Menyaksikan langsung keadaan dan perbuatan nabi.

3. Contoh periwayatan hadis bi ma’na

Hadis tentang niat beramalal- bukhari, muslim, abu dawud, at-turmudzi, al-nasa’i, ibnu majjah, dan lain-lain. , telah meriwayatkan hadis tersebut. Nama sahabat Nabi berstatus sebagai saksi pertama untuk seluruh sanad hadis itu adlah umar bin khotob. Dalam shahih bukhari hadis dimaksud termuat tujuh tempat. Nama-nama periwayatnya untuk tujuh sanad sama dithobaqotnya (tingkatan) pertama sampai dengan thobaqot keempat. Yakni : umar bin khotob, alaqamah bin waqashal-laysiy; nuhammad bin ibrahimbin alharis al-taymiy dan yahya bin sa’id alsahriy. Kemudian di tabhaqat kelima telah terjadi perbedaan nama periwayat. Yakni sofyan, dalam hal ini bin ‘uyaynah malik bin anas, abdul wahab dan hammad bin zayd dithabaqat keenam yakni sebelum albukhari, nama-nama periwayatnya diketujuh sanad tersebut berbeda juga. Yakni alhumaydiy ‘abd allah bin azzubair, ‘abda Allah bin maslamah, muhammad bin katsir musaddad, yahya bin qaz’ah, qutaibah bin sa’id dan abual-nu’man.

Ternyata, matan hadis dari tujuh sanad al-bukhori tersebut terdapat perbedaan redaksi. Di awal matannya saja, telah ada perbedaan-perbedaan susunan. Dalam hal ini ada lima macam susunan.

إنما الأعمال بالنيات
الأعمال بانية
العمل بالنية
إنما الأعمال بالنية
ياأيها الناس إنما الأعمال بالنية

Baca Juga: