Sejarah Lahir dan Perkembangan Aliran Mu’tazilah
Agama

Sejarah Lahir dan Perkembangan Aliran Mu’tazilah

Sejarah Lahir dan Perkembangan Aliran Mu’tazilah

Sejarah Lahir dan Perkembangan Aliran Mu’tazilah
Sejarah Lahir dan Perkembangan Aliran Mu’tazilah

Secara harfiah kata Mu’tazilah

berasal dari i’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri.

Disebut Mu’tazilah karena

Wasil bin ‘Atha dan ‘Amr in ‘Ubaid menjauhkan diri (i’tazala) dari pengajian Hasan al Basri di masjid Basrah, kemudian membentuk pengajian sendiri, sebagai kelanjutan pendapatnya bahwa orang yang mengerjakan dosa besar tidak mu’min lengkap, juga tidak kafir lengkap, melainkan berada dalam suatu tempat diantara dua tempat (tingkatan) tersebut. Karena penjauhan ini, maka disebut “orang Mu’tazilah” (orang yang menjauhkan diri – memisahkan diri).
Menurut riwayat lain, disebut Mu’tazilah karena mereka menjauhkan (menyalahi) semua pendapat yang ada tentang orang yang mengerjakan dosa besar. Golongan Murjiah mengatakan bahwa pembuat dosa besar masih termasuk orang mu’min. Menurut Khawarij Azariqah, ia menjadi kafir. Sedang menurut Hasan Basri ia menjadi orang munafik. Datanglah Wasil bin ‘Atha untuk mengatakan bahwa pembuat dosa besar bukan mu’min, bukan pula menjadi kafir, melainkan menjadi fisik. Menurut riwayat ini, sebab penyebutan adalah ma’nawiah, yaitu menyalahi pendapat orang lain, sedang menurut riwayat pertama, sebab penyebutan adalah lahiriah, yaitu pemisahan phisik (menjauhkan diri dari tempat duduk orang lain).
Disebut Mu’tazilah karena pendapat mereka yang mengatakan pembuat dosa besar berarti menjauhkan diri dari golongan orang-orang mu’min dan juga golongan orang-orang kafir. Perbedaan riwayat ini dengan riwayat sebelumnya (kedua) ialah kalau menurut riwayat kedua ke-Mu’tazilahan menjadi nama (sifat) golongan itu sendiri karena mereka menyetuskan pendapat baru yang menyalahi orang-orang sebelumnya, sedang menurut riwayat yang ketiga, ke-Mu’tazilahan mula-mula menjadi sifat si pembuat dosa itu sendiri, kemudian menjadi nama (sifat) golongan yang berpendapat demikian (yaitu pembuat dosa besar menyendiri dari orang-orang mu’min dan orang-orang kafir).

Baca Juga: Mukadimah

Kesimpulan

Dari ketiga riwayat tersebut dapat ditarik kesimpulan, yaitu:

a. Peristiwa timbulnya aliran Mu’tazilah ialah sekitar Hasan al Basri dan kedua muridnya, yaitu Wasil bin ‘Atha dan Amr bin Ubaid (Hasan Basri hidup 642-728 M).

b. Aliran Mu’tazilah timbul karena persoalan agama semata-mata

Mu’tazilah muncul di kota Basrah pada abad 2 Hijriyah, yaitu antara tahun 105-110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya adalah penduduk Basrah mantan murid Hasan al Basri yang bernama Wasil bin ‘Atha , kemunculan ini adalah karena Wasil bin’Atha berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mu’min dan bukan kafir melainkan fasik. Imam Hasan al Basri berpendapat mu’min berdosa besar masih berstatus mu’min. Inilah awal kemunculan paham dikarenakan perselisihan tersebut antara murid dan guru, dan akhirnya golongan Mu’tazilah dinisbahkan kepadanya. Sehingga kelompok Mu’tazilah semakin berkembang. Secara teknis, istilah Mu’tazilah menunjuk pada dua golongan.

Golongan pertama (Mu’tazilah I)

muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Tholib dan lawan-lawannya, terutama Mu’awiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair.

Golongan kedua (Mu’tazilah II)

muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang dikalangan Khawarij dan Murji’ah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Murji’ah tentang pemberian status kafir kepada orang yang berbuat dosa besar.

Beberapa versi tentang pemberian nama Mu’tazilah kepada mereka. Uraian yang biasa disebut buku-buku ‘Ilm al-Kalam berpusat pada peristiwa yang terjadi antara Wasil bin ‘Atha serta temannya ‘Amr bin Ubaid dan Hasan al Basri di Basrah. Ketika Wasil mengikuti pelajaran yang diberikan Hasan al Basri di masjid Basrah, datanglah seseorang bertanya mengenai pendapat Hasan al Basri tentang orang yang berbuat dosa besar. Ketika Hasan al Basri masih berfikir, Wasil mengeluarkan pendapatnya sendiri dengan mengatakan : “Saya berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah mu’min dan bukan pula kafir, tetapi mengambil posisi di antara keduanya; tidak mu’min dan tidak kafir.”Menurut al Baghdadi, Wasil dan temannya ‘Amr bin Ubaid diusir oleh Hasan al Basri dari majlisnya karena adanya pertikaian antara mereka mengenai persoalan qadar dan persoalan orang yang berbuat dosa besar. Keduanya menjauhkan diri dari Hasan al Basri dan mereka serta pengikut-pengikutnya disebut kaum Mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari faham umat Islam tentang orang yang berbuat dosa besar. Menurut mereka orang serupa ini tidak mu’min dan tidak pula kafir.

Versi lain dikemukakan oleh Tasy Kubra Zadah, menyebut menyebut bahwa Qatadah bin Da’amah pada suatu hari masuk ke masjid Basrah dan menuju ke majlis ‘Amr bin Ubaid yang disangkanya adalah majlis Hasan al Basri. Setelah mengetahui itu bukan majlis Hasan al Basri ia berdiri dan meninggalkan tempat itu, sambil berkata : “Ini kaum Mu’tazilah”. Semenjak itu, kata Tasy Kubra Zadah, mereka disebut kaum Mu’tazilah.