Sejarah PT. Unilever Indonesia, Tbk

Sejarah PT. Unilever Indonesia, Tbk

Sejarah PT. Unilever Indonesia, Tbk

Sejarah PT. Unilever Indonesia, Tbk
Sejarah PT. Unilever Indonesia, Tbk

Motivasi dan misi itu yang selalu menjadi bagian dari budaya Unilever. Pada abad ke-21, kami masih membantu orang untuk terlihat menarik, merasa baik, dan mendapatkan banyak hal dalam kehidupan, dan tujuan kami sebagai perusahaan adalah ‘menjadikan kehidupan berkelanjutan sebagai hal yang lumrah’.

1885 – 1899: Inovasi produk, gaya abad ke-19

Di akhir abad ke-19, di kota Oss, Brabant, Belanda, Jurgens dan Van den Bergh – dua bisnis perdagangan mentega milik keluarga – menjalankan perdagangan ekspor ke Inggris yang berkembang.

Di awal tahun 1870-an, mereka mulai tertarik dengan produk baru yang terbuat dari lemak dan susu sapi, yaitu margarin, mereka menyadari bahwa produk ini dapat diproduksi secara massal sebagai pengganti mentega dengan harga yang terjangkau.

Di kemudian hari, di sebelah utara Inggris pada pertengahan tahun 1880-an, bisnis grosir sukses milik keluarga yang dikelola oleh William Lever mulai memproduksi jenis sabun rumah tangga baru. Produk ini mengandung minyak kopra atau biji pinus yang menghasilkan busa lebih mudah daripada sabun tradisional yang terbuat dari lemak hewan. Unilever menamai sabun tersebut dengan merek Sunlight, nama yang tidak biasa pada masa itu, dan menjualnya dalam kemasan yang unik.

1930

Pada tanggal 1 Januari, Unilever berdiri secara resmi.

Procter & Gamble memasuki pasar Inggris dengan mengakuisisi Thomas Hedley Ltd dari Newcastle dan menjadi salah satu rival terbesar Unilever.

Produksi sabun bergerak semakin jauh dari sabun keras menjadi keping dan bubuk yang dirancang untuk membuat pekerjaan membersihkan di rumah tangga menjadi lebih ringan. Ini membawa ke perluasan dalam pasar sabun.

1935

Vitamin A & D ditambahkan ke margarin, untuk menyaingi tingkat yang ada pada mentega.

1938

Setelah kampanye untuk meningkatkan persepsi publik tentang margarin dan perkembangan berbagai merek yang diperkaya dengan vitamin, termasuk Stork di Inggris dan Blue Band di Belanda, penjualan margarin naik ke tingkat yang mendekati tingkat pada tahun 1929.

Dengan dimulainya Perang Dunia II, kendali bursa dan mata uang yang beku membuat perdagangan internasional semakin rumit. Di Jerman, Unilever tidak dapat memindahkan keuntunfan keluar dari negara tersebut dan sebaliknya harus berinvestasi dalam perusahaan yang tidak ada hubungannya dengan minyak dan lemak, termasuk kepentingan umum.

1940 – 1949: Berfokus pada kebutuhan lokal

Selama tahun-tahun perang, Unilever secara efektif terganggu, dengan bisnis di wilayah yang dikuasai Jerman dan Jepang terputus dari London dan Rotterdam.

Ini menyebabkan pengembangan struktur perusahaan dengan bisnis lokal Unilever bertindak dengan kemandirian tingkat tinggi serta berfokus pada kebutuhan pasar lokal.

Setelah perang, minat Unilever di Eropa Timur hilang dengan nasionalisasi dan kendali yang dilakukan oleh Uni Soviet. Pasar Tiongkok terpengaruh dalam cara yang sama.

Namun, sepanjang tahun 1940-an, Unilever terus melakukan perluasan di pasar makanan. Bisnis baru dengan kisaran produk yang beragam diakuisisi, dan sumber daya diteliti dan dikembangkan untuk mendapatkan material dan teknik produksi baru.

1941

Selama Blitz, sabun Lifebuoy menyediakan layanan cuci darurat gratis kepada penduduk London. Van Lifebuoy yang dilengkapi dengan pancuran air panas, sabun, dan handuk mengunjungi area ibu kota yang terkena bom untuk menawarkan fasilitas cuci keliling yang sangat dibutuhkan.

1943

Unilever menjadi pemegang saham mayoritas di Frosted Foods yang memiliki Birds Eye dan hak Inggris atas metode pengawetan makanan yang baru di pasar massal, pembekuan. Bertahun-tahun kemudian, pembekuan akan menikmati kenaikan popularitas saat membuktikan diri sebagai cara terbaik alami dalam mempertahankan kebaikan makanan segar. Hampir pada saat yang sama, Unilever mengakuisisi Batchelor’s, yang ahli dalam sayuran kering beku dan makanan kaleng.

1945

Di akhir perang, Unilever mampu untuk mendapatkan kembali kendali atas jaringan internasionalnya, walaupun tetap tidak bisa memasuki Eropa Timur dan Tiongkok. Desentralisasi bisnis yang tidak dapat dihindari di masa perang diteruskan sebagai keputusan kebijakan.

1946

Birds Eye meluncurkan kacang polong beku pertamanya di Inggris. Pada saat ini, daging, ikan, es krim, dan makanan kaleng cuma terhitung sebanyak 9% dari total omzet Unilever.

Baca juga artikel: