Sempat Terhenti Empat Tahun, Penerapan Program E-Sabak Kembali Digaungkan

Sempat Terhenti Empat Tahun, Penerapan Program E-Sabak Kembali Digaungkan

Sempat Terhenti Empat Tahun, Penerapan Program E-Sabak Kembali Digaungkan

Sempat Terhenti Empat Tahun, Penerapan Program E-Sabak Kembali Digaungkan
Sempat Terhenti Empat Tahun, Penerapan Program E-Sabak Kembali Digaungkan

Program E Sabak yang digagas di Kota Depok pada tahun 2015 kembali digaungkan penerapannya.

Program E-Sabak merupakan pelopor pembelajaran berbasis teknologi pertama di Indonesia.

Penggagas sekaligus pembuat E Sabak Chiptec Smart Learning, Ansarullah Yasin mengatakan program E-Sabak adalah proses pembelajaran menggunakan tablet. Program tersebut pernah di launching oleh Menteri Informasi dan Komunukasi Rudiantara dan Menteri Pendidikan Anies Baswedan di SMP 19 Depok.

Sejak tahun 2014 hingga saat ini, E-Sabak sudah digunakan di SMP swasta di Tangerang Selatan. Program ini akan dilanjutkan kembali setelah empat tahun terhenti,  dikarenakan banyak keingginan dan permintaan dari masyarakat Depok. “Kami rasa program e Sabak sangat berguna di era digital saat ini,” kata Ansarullah, Rabu (11/9/2019).

Penggunaan teknologi membawa dunia pendidikan lebih cepat dan lebih maju.

Dirinya yakin program ini bakal mampu mengurangi biaya kebutuhan para siswa akan buku, karena program E-Sabak, selain lebih murah juga tetap memiliki kualitas. Menekankan untuk kegiatan tulis-menulis, para siswa masih tetap menggunakan kertas.

“Saat ini, program telah mulai dicoba pada SMA. Untuk ke depannya, penerapan program ini dimulai dari daerah-daerah terpencil. Pada fase ini, kita fokus pada daerah-daerah yang tertinggal,” tambah Ansarullah.

Dia menjelaskan ketimpangan akses pendidikan dapat dikurangi dengan penerapan konsep 3T yang meliputi terdepan, terluar, dan tertinggal. Model pendidikan e-Sabak ini segera diterapkan menyeluruh dan masuk kurikulum masa datang, yang masih dalam tahap uji coba.

“Program ini sekaligus menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja praktis dan mengembangkan model pendidikan terbuka,” lanjutnya.

Dijelaskannya, e-Sabak merupakan sarana anak belajar aktif kreatif memakai tablet android

dalam kurikulum edukatif plus ketrampilan hidup. Alhasil, siswa bisa belajar kapan-dimana-siapa pun atau biasa disebut home schooling dimana siswa bersangkutan bisa mengikuti ujian sekolah lokal dan nasional melalui sekolah negeri terdekat baik tingkat SD, SMP, dan SMA.

Pemerintah dan industri, lanjut dia, mendorong operator untuk menerapkan teknologi terbaru agar bisa dimanfaatkan masyarakat Indonesia. Bahkan Menteri Informasi dan Komunikasi Rudi untuk menghadirkan e-sabak atau tablet ke kota-kota di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Setiap tablet dipakai oleh dua siswa di satu meja dan diamankan dengan daftar situs mana saja yang bisa dan tidak bisa dibuka.

Namun, tablet tersebut tidak boleh dibawa pulang dan hanya dipakai di sekolah. Program E-Sabak tersebut, menurut juga sebagai sarana mengubah paradigma penilaian orangtua terhadap keberhasilan seorang anak melalui pendidikan formal.

Sementara itu Ketua Dewan Pendidikan Kota Depok yang juga anggota DPRD Kota Depok Hafid Nasir menambahkan pihaknya akan mengevaluasi program tersebut. “Ya kami dengar program tersebut kami akan cek dulu dan evaluasi jika bagus bisa saja diterapkan di sekolah di Depok,” katanya.

 

Sumber :

https://www.colcampus.com/eportfolios/1334/Home/6_Characteristics_and_Examples_of_PlantLike_Protists