SEPULUH HARI TERAKHIR RAMADHAN
Agama

SEPULUH HARI TERAKHIR RAMADHAN

SEPULUH HARI TERAKHIR RAMADHAN

SEPULUH HARI TERAKHIR RAMADHAN
SEPULUH HARI TERAKHIR RAMADHAN

Bismillahirrahmanirrahim

Kumpulan Hadits

حدثنا قتيبة بن سعيد وأبو كامل الجحدري كلاهما عن عبد الواحد بن زيادقال قتيبة حدثنا عبد الواحد عن الحسن بن عبيد الله قال سمعت إبراهيم يقول سمعت الأسود بن يزيد يقول قالت عائشة رضي الله عنها كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في العشر الأواخر ما لا يجتهد في غيره

Terjemahan : Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dan Abu Kamil Al-Jahdari keduanya dari Abdul Wahid bin Ziyad – Qutaibah berkata : Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid, dari Al-Hasan bin Ubaidullah ia berkata : saya mendengar Ibrahim berkata : saya mendengar Al-Aswad bin Yazid berkata : Aisyah berkata : Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya. (HR. Muslim No. 1175)

حدثنا علي بن عبد الله حدثنا سفيان عن أبي يعفور عن أبي الضحى عنمسروق عن عائشة رضي الله عنها قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Artinya : Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Ya’fur, dari Abu Adh-Dhuha, dari Masruq, dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarga Beliau. (HR. Bkhari No. 1920)

حدثنا إسحق بن إبراهيم الحنظلي وابن أبي عمر جميعا عن ابن عيينة قالإسحق أخبرنا سفيان بن عيينة عن أبي يعفور عن مسلم بن صبيح عن مسروق عنعائشة رضي الله عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر أحيا الليل وأيقظ أهله وجد وشد المئزر

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Ibnu Uyainah – Ishaq berkata : telah mengabarkan kepada kami Sufyan bin Uyainah, dari Abu Ya’fur, dari Muslim bin Shubaih, dari Masruq, dari Aisyah radliallahu ‘anha, ia berkata : Ketika Rasulullah saw memasuki sepuluh terakhir Ramadlan, maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamullail) dan membangunkan keluarganya serta mengencangkan ikatan kainnya (menjauhi isterinya untuk lebih konsentrasi beribadah). (HR. Muslim No. 1174)

نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ ، وَدَاوُدُ بْنُ أُمَيَّةَ ، أَنَّ سُفْيَانَ أَخْبَرَهُمْ ، عَنْأَبِي يَعْفُورٍ ، وَقَالَ دَاوُدُ عَنْ ابْنِ عُبَيْدِ بْنِ نِسْطَاسٍ ، عَنْ أَبِي الضُّحَى ، عَنْمَسْرُوقٍ ، عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” كَانَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ ، وَشَدَّ الْمِئْزَرَ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ ” . قَالَ أَبُو دَاوُد : أَبُو يَعْفُورٍ : اسْمُهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُبَيْدِ بْنِ نِسْطَاسٍ .

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Nahsr bin Ali dan Daud bin Umayyah bahwa Sufyan mengabarkan kepada mereka, dari Abu Ya’fur, Daud mengatakan : dari Abu ‘Ubaid bin Nisthasi dari Abu Adl Dluha, dari Masruq, dari Aisyah bahwa ketika Nabi saw memasuki sepuluh malam yang terakhir, beliau menghidupkan malamnya dan mengencangkan ikat pinggang serta membangunkan keluarganya. Abu Daud berkata; “Abu Ya’fur namanya adalah Abdurrahman bin ‘Ubaid bin Nisthasi. (HR. Abu Daud No. 1170)

Penjelasan

Rasulullah bersungguh-sungguh dan menambah di dalam mengerjakan ibadah di atas ibadah sebelumnya pada sepuluh terakhir dari Ramadhan dengan menghidupkan malamnya.

Sedangkan menghidupkan malam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah mengerjakan berbagai macam ibadah berupa shalat, dzikir, tafakkur atau menghidupkan dirinya dengan begadang di dalamnya, karena tidur adalah saudaranya kematian, dan digandengkan kepada malam sebagai keluasan karena seorang yang tidur jika hidup dengan bangun maka ia sudah membangunkan malamnya dengan kehidupannya.

Adapun pendapat para sahabat kami (dari madzhab Syafi’ie) bahwa dimakruhkan bangun malam seluruh malam, maka maknanya adalah dikerjakan terus menerus dan mereka tidak berpendapat dimakruhkan satu malam, dua malam atau sepuluh malam, oleh sebab inilah mereka bersepakat akan dianjurkannya menghidupkan dua malam ‘ied.

Mengencangkan sarung adalah bahwa Rasulullah saw menjauhi istri-istrinya untuk menyibukkan diri dengan ibadah.

Baca Juga: