Sumber Sejarah Kerajaan Hindu Budha

Sumber Sejarah Kerajaan Hindu Budha

Sumber Sejarah Kerajaan Hindu Budha

Sumber Sejarah Kerajaan Hindu Budha
Sumber Sejarah Kerajaan Hindu Budha

 

a. Prasasti Canggal

Prasasti yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Canggal berangka Tahun 732 M dalam bentuk Candrasangkala. Menggunakan aksara pallawa dan bahasa sangsekerta. Isi dari prasasti tersebut menceritakan wacana pendirian Lingga (lambang Syiwa) yang merupakan agama Hindu beraliran Siwa di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya serta menceritakan bahwa yang menjadi raja mula-mula yakni sena yang kemudian digantikan oleh Sanjaya.

Terjemahan Isi Prasasti

Terjemahan bebas isi Prasasti Canggal yakni sebagai berikut:

Bait 1 : Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung
Bait 2-6 : Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu
Bait 7 : Pulau Jawa yang sangat makmur, kaya akan tambang emas dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan santunan dari penduduk Kunjarakunjadesa
Bait 8-9 : Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat Negara berkabung, duka kehilangan pelindung
Bait 10-11 : Pengganti raja Sanna yaitu putranya berjulukan Sanjaya yang diibaratkan dengan matahari. Kekuasaan tidak pribadi diserahkan kepadanya oleh raja Sanna tetapi melalui abang perempuannya (Sannaha)
Bait 12 : Kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman Negara. Rakyat sanggup tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau akan terjadinya kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba senang.

Kunjarakunja-desa sanggup berarti “tanah dari pertapaan Kunjara”, yang diidentifikasikan sebagai tempat pertapaan

b. Prasasti Metyasih/Balitung

Prasasti ini ditemukan di desa Kedu, berangka tahun 907 M. Prasasti Metyasih yang diterbitkan oleh Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya ke-9) terbuat dari tembaga.. Prasasti ini dikeluarkan sehubungan dengan pemberian hadiah tanah kepada lima orang patihnya di Metyasih, dikarenakan telah berjasa besar terhadap Kerajaan serta memuat nama para raja-raja Mataram Kuno.

KERUNTUHAN WANGSA SANJAYA

Pada masa ke-10, Dyah Wawa mempersiapkan seni administrasi suksesi Empu Sendok yang mempunyai integritas dan moralitas sebagai calon pemimpin Mataram. Pada ketika itulah pemerintahan Dyah Wawa mengalami kemunduran. Empu Sendok yang memegang pemerintahan sesudah Dyah Wawa meninggal merasa khawatir terhadap serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Empu Sendok memindahkan sentra pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sumber lain menyebutkan perpindahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur disebabkan oleh meletusnya gunung merapi di Jawa Tengah.

Baca Juga: