Uncategorized

Teori Kesadaran Politik

Teori Kesadaran Politik

Dalam hal ini kita dapat mengetahui bahwa peran masyarakat sangat penting untuk menentukan masa depan Bangsa Indonesia. Rakyat harus memiliki kesadaran berpolitik untuk membantu jalannya kebijakan-kebijakan negara, rakyat harus sadar bahwa fenomena ”serangan fajar”bukanlah sebuah rejeki dan bukan berarti bahwa calon pemimpin itu akan selalu mengayomi mereka seperti pada saat kampanye, rakyat harus diajarkan ilmu politik secara lebih logis, agar dalam pelaksanannya masyarakat tidak bersifat apatis, minimal bersifat spektator bahkan lebih bagus jika masyarakat bersifat gladiator terhadap keadaan politik. Masyarakat harus memiliki rasa kepemilikan terhadap negara.pentingnya kesadaran berpolitik masyarakat untuk berpartisipasi dalam memilih pemimpin negara untuk masa depan negara Indonesia, menurut Drs. M. Taophan:

Kesadaran politik adalah suatu proses batin yang menampakkan keinsyafan dari setiap warga negara akan urgensi urusan kenegaraan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kesadaran  politik atau keinsyafan bernegara menjadi penting dalam kehidupan kenegaraan, mengingat tugas-tugas negara bersifat menyeluruh dan kompleks. Karena itu tanpa dukungan positif dari seluruh warga masyarakat akan banyak tugas negara yang terbengkalai.[4]

Dari teori diatas dapat kita simpulkan bahwa sangat penting sekali memberikan pembelajaran politik terhadap masyarakat agar tumbuhnya kesadaran berpolitik, menciptakan masyarakat madani, masyarakat yang tidak bersifat apatis dalam berpolitik serta untuk masa depan Negara Indonesia itu sendiri.

1.3 Teori Partisipasi Politik

Melihat dari teori-teori yang sudah dipaparkan diatas, teori-teori tersebut sangat jelas bahwa peran rakyat sangat dibutuhkan untuk ikut berpartisipasi dalam jalannya politik di Indonesia seperti menurut beberapa ahli Michael Rush dan Philip Althoff mendefinisikan partisipasi politik lebih mudah dipahami menggunakan logika. Mereka menjelaskan bahwa partisipasi politik adalah keterlibatan individu sampai pada bermacam-macam tingkatan di dalam sistem politik. Aktivitas politik itu bisa bergerak dari ketidakterlibatan sampai dengan aktivitas jabatannya[5]

selain teori diatas, ada juga teori pertisipasi politik yang menyebutkan alasan pentingnya melakukan partisipasi politik, teori yang dicetuskan oleh Conyers yang mengatakan bahwa:

Pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yaitu: pertama, Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan dan proyek akan gagal, kedua, Masyarakat mempercayai program pembagunan jika dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena masyarakat lebih mengetahui seluk beluk proyek dan merasa memiliki proyek tersebut, ketiga, Partisipasi merupakan hak demokrasi masyarakat dalam keterlibatannya di pembangunan.[6]

point pertama dan kedua dari teori yang dipaparkan oleh Conyers dapat kita pahami bahwa selain untuk menyuarakan pendapat dan hak kita, partisipasi politik juga dapat mengontrol jalannya program pembangunan.

Akan tetapi dari teori di atas ada teori yang mengatakan bahwa partisipasi masayarakat dalam berpolitik harus dibatasi seperti menurut pandangan Samuel P. Huntington dan Joan Nelson yang membatasi pengertian partisipasi politik pada:

Pertama, Partisipasi politik hanyalah mencakup kegiatan-kegiatan dan bukan sikap-sikap.kedua, Partisipasi politik adalah warga negara biasa, bukan pejabat-pejabat pemerintah. ketiga, Kegiatan partisipasi politik hanyalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah.keempat, Partisipasi politik juga mencakup semua kegiatan yang mempengaruhi pemerintah, terlepas tindakan itu efektif atau tidak,berhasil atau gagal. kelima, Partisipasi politik berupa kegiatan yang mempengaruhi pemerintah yang dilakukan langsung atau tidak langsung.[7]

Terlepas dari teori-teori yang dikemukakan para ahli, pada realitasnya banyak masyarakat memiliki alasan yang bervariasi atas tidak keterlibatannya mereka dalam aktivitas politik atau tidak ikutnya mereka dalam partisipasi politik, diantaranya adalah,pertama, masyarakat secara sadar mempercayai bahwa tidak ada calon pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan harapan bersama masyarakat dan pada akhirnya lebih memilih bersikap apatis, selain itu mereka berfikir bahwa menggunakan hak pilihnya ataupun tidak, mereka tidak akan merasakan perubahan yang lebih khusus atau signifikan dalam kehidupannya,yang kedua, rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemilu dikarenakan kesalahan teknis dari penyusunan daftar pemilihan tetap yang terbengkalai dan mengakibatkan banyaknya masyarakat yang tidak terdaftar dan tidak mengikuti pemilihan umum.

  1. Metodologi Penelitian

  1. Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan wawancara, metode survei adalah metode pengumpulan data dengan menggunakan instrument  untuk meminta tanggapan dari responden tentang sampel sedangkan metode wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden, komunikasi berlangsung dalam bentuk Tanya-jawab dalam hubungan tatap muka, sehingga gerak dan mimik muka responden dapat menjadi pelengkap ekspresi responden.

  1. Metode Analisis Data

Dalam mengkaji data pada penelitian ini meggunakan pendekatan  kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu suatu pendekatan dalam melakukan penelitian mengenai fenomena pemilu ini yang berorientasi pada gejala-gejala yang bersifat alamiah maka sifatnya naturalistik dan mendasar atau bersifat kealamiahan serta tidak bisa dilakukan di laboratorium melainkan harus terjun di lapangan, meneliti secara langsung mengenai kebudayaan pemilu yang berlaku di masyarakat Balaraja, dengan tujuan  menggambarkan suatu gejala sosial.

Dengan kata lain penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena pemilu yang tengah berlangsung di daerah Balaraja pada saat studi. dimana yang dikumpulkan berupa pendapat, tanggapan, informasi, konsep-konsep dan keterangan yang berbentuk uraian dalam mengungkapkan masalah. dan untuk menganalisis fenomena ini, penenyusun menggunakan metode historis dan metode studi kasus

sumber :

https://apartemenjogja.id/diamo-xl-10-apk/