Pendidikan

Teori Psikososial Erikson

Teori Psikososial Erikson

Menurut teori psikososial Erikson, kepribadian terbentuk ketika seseorang melewati tahap psikososial sepanjang hidupnya. Psikososial berarti tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis. Perkembangan manusia dibedakan berdasarkan kualitas ego dalam delapan tahap perkembangan. Empat tahap pertama terjadi pada masa bayi, dan empat tahap terakhir terjadi pada masa dewasa sampai usia tua.

 

1)      Tahap kepercayaan dan ketidakpercayaan (trust versus mistrust)

 

 merupakan tahap yang terjadi selama tahun-tahun pertama. Contoh dalam tahap ini adalah hubungan antara ibu dengan bayi. Ketika ibu memberi makan, memeluknya, mengajak berbicara, maka bayi akan merasa bahwa dirinya diterima di dalam lingkungannya. Hal ini yang menjadi landasan pertama bagi rasa percaya. Sebaliknya, jika ibu tidak memenuhi kebutuhan sang bayi, maka dalam diri bayi akan timbul rasa ketidakpercayaan terhadap lingkungannya.

2)      Tahap otonomi dengan rasa malu dan ragu (autonomi versus shame and doubt)yaitu tahap kedua perkembangan psikososial yang berlangsung pada akhir masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Contohnya: anak mulai berlatih untuk pergi ke toilet.

3)      Tahap Inisiatif dengan Rasa Bersalah (initiatif versus guilt), terjadi pada masa-masa prasekolah (3-5 tahun). Anak-anak perlu mulai menunjukkan kendali dan kekuasaan atas lingkungan. Contoh: anak-anak mulai mengeksplor diri mereka.

4)      Tahap Kerajinan dan Rasa Rendah Diri (industry versus inferiority), terjadi kira-kira pada usia sekolah (6-11 tahun). Pada masa ini anak-anak mulai memasuki dunia yang baru, yaitu sekolah.

5)      Tahap Identitas dan Kekacauan Identitas (identity versus identity confusion), terjadi pada masa-masa remaja (12-18 tahun). Pada masa ini anak dihadapkan pada masa pencarian jati diri. Keberhasilan memunculkan kemampuan untuk tetap yakin pada diri sendiri, sedangkan kegagalan mengakibatkan kebingungan peran dan rasa diri yang lemah. Ha ini biasanya terjadi ketika sedang berhubungan sosial.

6)      Tahap Keintiman dan Isolasi (intimacy versus isolation), terjadi pada masa dewasa muda (19-40 tahun). Tugas individu pada masa ini yaitu membentuk relasi intim dengan orang lain. Keberhasilan memunculkan hubungan kuat, sedangkan kegagalan menghasilkan kesepian. Contoh: mulai menjalin hubungan dekat dan cinta dengan orang lain. 

7)      Tahap Generatifitas dan Stagnasi (generativity versus stagnation), terjadi pada masa pertengan dewasa (40-65 tahun). Ciri utama tahap ini adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan (keturunan, ide, dan sebagainya) serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi selanjutnya. Keberhasilan mendorong perasaan kebergunaan pencapaian, sedangkan kegagalan menghasilkan stagnasi. Contoh: ketika individu sudah bekerja dan menjadi orang tua.

8)      Tahap Integritas dan Keputusasaan (integrity versus despair), terjadi pada masadewasa akhir (65-meninggal). Orang dewasa akhir perlu melihat ke belakang dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan dalam kehidupan mereka selama ini. Keberhasilan menghasilkan perasaan arif, sedangkan kegagalan menghasilkan penyesalan dan keputusasaan

sumber :

https://daftarpaket.co.id/seva-mobil-bekas/