Unsur Dan Syarat Perjanjian Yang Sah

Unsur Dan Syarat Perjanjian Yang Sah

 

Perjanjian yang sah dan pengikat adalah perjanjian yang memenuhi unsur-unsur dan syarat-syarat yang ditetapkan oleh undang-undang.perjanjian yang sah dan mengikat dan mengikat diakui dan memiliki akibat hukum (legally concluded concert). Menurut ketentuan pasal 1320 KUHPdt, setiap perjanjian selalu memiliki empat unsure melekat syarat-syarat yang ditentukan undang-undang.

Persetujuan Kehendak

Unsur Subjek, minimal ada dua pihak dalam perjanjian yang mengadakan persetujuan (ijab Kabul) antara pihak yang satu dan pihak yang lain. Kedua  dalam perjanjian harus memiliki syarat-syarat kebebasab meyatakan kehendak, tidak ada paksaan, penipuan, dan kekhilafan satu sama lain. Persetujuan kehendak adalah persepakatan seia sekata antara pihak-pihak mengenai pokok (esensi) Perjanjian.

Kewenangan (kecakapan)

Unsur perbuatan (Kewenangan berbuat), setiap pihak dalam perjanjian wewenangmelakukan pebuatan hukummenurut undang-undang. Pihak-pihakbersangkutanharus memenuhi syarat-syarat, yaitu sudah dewasa,artinya sudah berumur 21 tahun penuh; walaupun belum berusia 21 tahun penuh, tapi sudah pernah kawin; sehat akal (tidak gila); tidak dibawah pengampunan, dan memiliki surat kuasa apabila mewakili pihak lain.

Objek (prestasi) tertentu

Unsure objek (prestasi tertentuatau dapat ditentukan pemberitahuan suatu benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwuju; melakukan suatu perbuatan tertentu; atau tidak melakukan perbuatan-perbuatan tertentu.

Tujuan Perjanjian

Unsure tujuan yaitu apabila yang ingin ficapai pihak-pihak itu harus memenuhai syarat halal. Tujuan kesepakatan akan dicapai pihak-pihaknya itu sifatnya harus halal. Artinya, tidak dilarang undang-undang, tidak bertentangan dengan ketertiban umum,dan tidak bertentangan dengan kesusilaan masyarakan (Pasal 1337 KUHPdt).

Akibat Hukum Perjanjian Sah

Menurut ketentuan Pasal 1338 KUHPdt,Perjanjian yang dibuat dengan sah dan mengikat berlaku sebagai undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya tidak dapat dibatalkan tanpa persetujuan keduabelah pihak dan harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Pelaksanaan dengan iktikad baik yang dimaksud dengan iktikad (te goeder, in goodfaith) dalam pasal 1338 KUHPdt adalah ukuran objektif untuk menilai pelaksanaan perjanjian, apakah perjanjian itu mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan serta apakah pelaksanaan perjanjian itu telah berjalan diatas rel yang benar.

Sumber : https://www.sekolahbahasainggris.co.id/